Mendiknas dan Menag Harus Tanggung Jawab

Oral Seks Pak Guru

Mendiknas dan Menag Harus Tanggung Jawab

- detikNews
Selasa, 18 Nov 2008 11:45 WIB
Mendiknas dan Menag Harus Tanggung Jawab
Jakarta - Ulah bejat Erwin Ronaldo, guru di Tapanuli, Sumatera Utara, yang memaksa murid perempuannya melakukan oral seks di depan kelas tidak lepas dari tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo dan Menteri Agama M Maftuh Basyuni. 2 Menteri itu pun bakal dipanggil DPR.

"Itu bukan semata-mata guru melakukan itu. Tetapi bagaimana pertanggungjawaban Mendiknas dan Menag. Dua departemen itu begitu membaca pendidikan, yang muncul pembangunan fisik. Padahal orientasi pendidikan tidak hanya fisik. Mental pendidik jadi acuan utama," kata Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Said Abdullah, kepada detikcom, Selasa (18/11/2008).

Menurut dia, Depdiknas dan Depag selalu berorientasi pada fisik dan mengabaikan norma pendidikan keguruan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Rehab sekolah, rehab perpustakaan. Abai pada norma pendidikan keguruan, moral bagi guru, anak didik. Kasus ini saya yakin tidak hanya terjadi di Tapanuli, tetapi juga daerah lain. Saya temukan di Jatim, Sulawesi, Kalteng. Sudah jadi rahasia umum," ujarnya.

Politisi PDIP ini mengatakan, Mendiknas dan Menag akan dipanggil DPR pada masa sidang mendatang.

"Komisi VIII dan Komisi X akan rapat gabungan dengan Mendiknas dan Menag guna memformulasi ulang pentingnya humaniora bagi guru-guru kita. Saya tidak akan katakan itu penyimpangan karena guru itu bisa bebas dari hukum dengan alasan gangguan kejiwaan. Polisi harus cari sampai dapat," beber dia.

Said meminta agar calon guru menjalani tes kejiwaan saat menjalani rekrutmen.

"CPNS, guru non PNS, wajib psikotes untuk mengetahui kejiwaan guru. Selama ini kan tes kepintaran tok, pintar matematika misalnya, jadi guru matematika," cetusnya.

Seperti diberitakan, dua siswi SD di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dipaksa gurunya, Erwin Ronaldo, melakukan oral seks di depan kelas.

Seisi kelas yang menyaksikan hal tersebut awalnya tidak berani bicara karena diancam. Namun setelah seorang teman kelas korban mengadu pada orangtuanya, kasus ini mencuat dan keluarga korban melapor ke polisi.

Ngobrolin kasus ini lebih lanjut? Gabung di sini.
(aan/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads