"Masih ada warisan kolonial yang digunakan dalam mendidik. Mungkin karena dulu diajarkan dengan kekerasan maka sekarang mereka mengajar pakai kekerasan. Ada daerah yang masih menerapkan itu. Jadi tidak lepas dari budaya masa lalu. Kalau sekarang, disebut gaya premanisme," kata Ketua DPP I Federasi Guru Independen Indonesia, Supriyono, kepada detikcom, Selasa (18/11/2008).
Menurut dia, guru sebaiknya mendidik dengan santun. "Membuat anak didik sebagai manusia bermartabat. Sebab, sekarang kan semua dimonitor dan diawasi. Demokrasi pun jangan kebablasan," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sangat terkejut. Itu melanggar kode etik dan tidak dibenarkan," cetus pria yang mengajar di SMK Negeri 42 Cengkareng ini.
Rekrutmen
Supriyono mengatakan, kepribadian sangat penting dalam proses rekrutmen calon guru.
"Kalau di sekolah negeri, sudah ada tata cara yang benar. Ada tes IQ, ilmu pengetahuan, secara psikologis harus memiliki jiwa yang baik, tidak ada penyimpangan. Kalau di swasta, saya kurang paham. Kalau ada kasus seperti itu, mungkin waktu rekrutmen mengabaikan kepribadian guru," ujar Supriyono.
Untuk itu, lanjut dia, pemerintah maupun yayasan pendidikan ke depan harus punya peraturan baku dalam proses rekrutmen calon guru.
"Harus ada peraturan yang bisa menjerat orang yang menyimpang. Kalau untuk anak kan ada UU Perlindungan Anak. Untuk guru harus ada peraturan tentang kode etik guru. Guru harus santun dan menghargai siswa," kata Supriyono. (aan/nrl)











































