89 Jamaah Haji Kena Diare, Diduga dari Katering

Laporan dari Arab Saudi

89 Jamaah Haji Kena Diare, Diduga dari Katering

- detikNews
Senin, 17 Nov 2008 17:27 WIB
Jakarta - 89 Jamaah haji Indonesia dari kloter 32 dan 20 Jakarta mengalami sakit diare. Diduga para jamaah yang terkena diare ini akibat makan makanan yang dikirim katering Al Ikhwan.
 
Informasi 89 jamaah yang mengalami diare akibat katering ini didapatkan wartawan MCH Madinah dari laporan resmi tim kesehatan di kloter dan sektor pada Daker Madinah.
 
"Ini masih diduga akibat makanan dari katering Al Ikhwan. Kan untuk kena diare itu banyak penyebabnya, bisa karena kabersihan, kelelahan dan tangan yang kotor saat kita makan," kata Wakadaker bidang kesehatan Bermawy Sjahdjam pada wartawan MCH di Madinah, Senin (17/11/2008).
 
Akibat kejadian ini, tim kesehatan yang dipimpin Wakadaker Bermawy Sjahdjam yang didampingi tim sanitasi dan survailance (Sansur) langsung meninjau katering Al Ikhwan untuk memastikan proses memasak dan packing katering jamaah haji Indonesia.
 
Hasilnya, banyak ditemukan hal-hal yang kurang memadai untuk menjaga kebersihan dan kesehatan jamaah. Antara lain banyak sisa makanan berupa nasi, sayur dan lauk untuk pagi hari tidak langsung dibuang. Justru salah seorang petugas Al Ikhwan yang keceplosan mengaku sisa makanan yang untuk pagi hari akan digunakan kembali untuk makan malam jika masakan untuk malam hari kekurangan.
 
"Ini semua masakan tadi pagi, masih disimpan karena kalau malam kekurangan, kita ambilkan dari situ," kata petugas itu langsung meninggalkan wartawan MCH di kantor catering Al Ikhwan Madinah.
 
Selain ditemukan soal masakan sisa yang masih disimpan, tim kesehatan dan dan Sansur juga menemukan banyaknya alat-alat pendingin dan penghangat makanan yang tidak beroperasi. Akibatnya, masakan yang harusnya tetap terjamin kesehatannya karena tersimpan dalam freezer atau heatter menjadi kurang baik dikonsumsi.
 
Anggota tim Sansur yang merupakan ahli gizi, Kamal Kasra, meminta pihak pengelola katering segera membenahi semua catatan yang diperoleh tim kesehatan dan Sansur. Termasuk terjaminnya tempat memasak dari bakteri dan lalat karena berada di tempat yang terbuka yang tidak ada pintu pengaman.
 
"Ini semua harus dibenahi, tempat untuk meletakkan barang-barang harus diberi jarak dari tembok dan lantai. Pintu antara ruang memasak dan pintu utara harus ada pintu tertutup untuk menghindari bakteri masuk," saran Kamal.
 
Pihak pengelola Al Ikhwan yang mendadak dikunjungi tim kesehatan dan Sansur terlihat panik. Mereka langsung bersih-bersih dan beres-beres barang-barang yang mendapatkan catatan merah dari tim kesehatan dan Sansur.
 
Menurut salah satu pegawai katering Al Ikhwan, Anwar Waming Yusuf, semua permintaan untuk memasak khas Indonesia telah dipenuhi termasuk standar gizi dan kebersihanya. Karena itu, dia mempertanyakan jika 89 jamaah yang terkena diare itu disebabkan dari katering Al Ikhwan.
 
"Katering ini kan melayani sekitar 20 ribu jamaah haji Indonesia dan jamaah yang datang serta berangkat dari Madinah di terminal hijrah. Kalau yang sakit akibat makanan yang datang dari sini, bagaimana kok nggak sakit semua. Kok hanya 89 orang. Mungkin akibat makan makanan di jalan setelah pulang dari masjid seperti susu dan ikan. Saya saja kalau makan susu langsung mules-mules," argumennya.
 
Pada saat yang sama tim kesehatan Arab Saudi dan baladiyah Arab Saudi juga sedang memeriksa katering Al Kkhwan. Pemilik katering terlihat sibuk menjelaskan semua proses memasak pada tim ini. Para petugas Arab Saudi ini juga terlihat mempertanyakan banyak hal. Diduga sidak tim dari Arab Saudi yang terdiri dari 2 tim dokter dan 2 anggota Baladiyah ini terkait laporan dari adanya jamaah haji yang terkena diare akibat memakan katering Al Ikhwan.
 
"Tim kesehatan Arab Saudi dan Baladiyah (petugas Arab Saudi bidang sosial kemasyarakatan) juga mengecek mungkin akibat adanya laporan dari kita,"kata petugas musiman haji yang tidak mau disebutkan namanya.
 
Sampai saat ini belum ada keputusan apakah kontrak dengan perusahaan katering Al Ikhwan akan dilanjutkan atau diputus. Yang pasti, tim kesehatan sudah mengambil sampel makanan, sayuran dan daging untuk diperiksa di laboratorium kesehatan RS Al Ansor Madinah. (yid/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads