Konsumen Obat Kuat Mayoritas Kalangan Menengah Bawah

Konsumen Obat Kuat Mayoritas Kalangan Menengah Bawah

- detikNews
Senin, 17 Nov 2008 12:05 WIB
Konsumen Obat Kuat Mayoritas Kalangan Menengah Bawah
Jakarta - Banyak laki-laki di masyarakat termakan mitos seks dan mengkonsumsi obat kuat karena kekurangan informasi. Celakanya, hal ini banyak menimpa kalangan menengah ke bawah.

"Pemerintah harus memberikan edukasi masyarakat. Kunci penyelesaian masalah ada pada komunikasi dan informasi. Masyarakat kita belum terlalu pintar, seperti pemenuhan gizi, tidak tahu bahwa yang murah itu bergizi. Ini pun begitu, tidak sembarangan minum obat kalau tidak perlu," ujar ujar pengasuh rubrik kesehatan dan penulis buku dr Handrawan Nadesul.

Hal itu disampaikan Handrawan dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (17/11/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Handrawan menekankan informasi tentang baik buruk obat kuat sudah bisa diakses pada masyarakat perkotaan, atau mereka yang memiliki cukup uang untuk berkonsultasi ke dokter.

Namun, bagi mereka yang dananya terbatas untuk ke dokter, atau ke daerah yang akses informasinya terbatas tidak bisa mendapatkan informasi tentang serba-serbi obat kuat ini.

"Depkominfo mestinya bisa sampai ke desa-desa. Mereka tidak membaca koran atau berapa yang mengakses ke internet. Atau di televisi, berapa persen televisi yang menampilkan tayangan yang menyesatkan seperti shinse, dukun, masyarakat tambah bodoh," kata dia.

Dicontohkannya seperti metode paranormal yang memindahkan penyakit ke binatang, atau berapa banyak pasien kanker yang terlambat ditangani karena ke orang pintar dulu bukan ke dokter, atau mengonsumsi jamu-jamu yang tidak jelas produksinya.

"Seperti masyarakat di Cilacap, mereka minum jamu tapi berisi bahan obat. Kalau seperti ini berbulan-bulan bertahun-tahun lagi rakyat kita tulangnya keropos atau kena kanker karena efek samping yang terkandung pada jamu," jelasnya.

Masyarakat harus dilatih untuk kritis dan skeptis terhadap pengobatan non-medis. Karena masyarakat berpendidikan saja bisa percaya pengobatan bersifat non-medis ini.

"Masyarakat atas pun terkecoh, seperti ada orang bisa menyembuhkan penyakit hepatitis B. Kalau seperti itu nalarnya seharusnya dapat Nobel dong. Dunia medis berpuluh tahun mencari obat hepatitis belum ketemu juga," jelas Handrawan.

Selain itu, kunci edukasi ada pada keluarga. "Anak, suami tergantung peran ibu. Kalau ibunya tidak tahu ibu bisa membawa ke dukun yang bisa cacat atau bahkan meninggal," tuturnya. (nwk/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini