Beruntung, tidak ada korban dalam peristiwa yang terjadi Sabtu (15/11/2008) pukul 02.00 WIB dini hari itu. Kini kasus ini telah ditangani oleh polisi setempat.
Menurut salah satu penghuni rumah, Marsiyem ledakan di rumahnya terjadi sekitar pukul 01.45 WIB. Perempuan 53 tahun itu pun terbangun dan mendapati bagian belakang rumahnya telah dilalap api.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Api besar langsung bakar rumah. Saya dan semuanya keluar untuk menyelamatkan diri," katanya.
San Karja Buang, suami Marsiyem menduga peledakan bom molotov itu dilakukan oleh menantunya Ludiyono yang ingin istrinya kembali kepadanya. Kecurigaan San bukan tak berdasar.
Sekitar 100 hari sebelum kejadian, anaknya, Saryati, yang merupakan istri Ludyono menerima dua surat ancaman. Isi surat itu mengancam jika Saryati tidak kembali ke suaminya, maka rumah keluarganya akan dibakar.
Menurut San, anaknya memang meninggalkan Ludyanto dan berniat menggugat cerai pria tersebut. "Saryati tidak tahan sama kelakuan suaminya yang tidak tanggung jawab. Tidak pernah memberi nafkah," kata San.
Bahkan saat anaknya lahir pun, Ludyanto tak pernah datang. "Apalagi menjenguk, wong bertanggungjawab memberi nafkah dan biaya kelahiran anak saja tidak mau bertanggungjawab," katanya.
(ken/ken)











































