"Asik hujan. Air banyak," ujar Purwanto (9) yang tengah berenang hanya menggunakan celana pendek. Bersama teman-temannya, dia berenang di depan mushola At Taufik yang juga tenggelam hingga ketinggian 60 cm.
"Ini rada surut, tadi masih 80 cm," ujar teman yang lainnya, Seno (7) kepada detikcom, Jumat (14/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi ntar kalau hujan gak boleh sama papa. Takut airnya tiba-tiba naik," tambahnya dengan muka ceria.
Di RT yang berjarak 300 meter dari pusat sungai Ciliwung itu, warga masih bertahan di lantai 2. Untuk keamanan, di sepanjang jalan dan gang dipasang tali sebagai pegangan supaya tidak terseret arus air. Wargapun memasukan tas mereka ke dalam kresek supaya tidak basah.
"Habis pulang sekolah, tadi pagi juga udah naik pas mau berangkat," ujar Santo, siswa kelas 10 sebuah SMK di Kramat Jati.
Hingga kini, air masih menggenang perkampungan tersebut. Warga hanya mengungsikan barang-barangnya ke tepi jalan raya.
"Ya lihat saja ntar. kalau semakin tinggi kita baru siap-siapa ngungsi," ujar warga RT 2/2 Kampung Melayu.
(asp/irw)











































