Hal itu terungkap dari data yang dikeluarkan Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Banjir dan Pengungsi Pemrov DKI Jakarta dan dibagikan kepada wartawan di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (14/11/2008).
Menurut data yang diperbaharui terakhir kali pukul 10.00 WIB itu, banjir di Jakarta terjadi di lima titik. Titik pertama adalah di kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Banjir setinggi 40-250 cm yang disebabkan luapan kali Ciliwung itu mengakibatkan 1.942 KK atau 3.426 jiwa mengungsi. Saat ini mereka ditampung di RS Hermina dan eks bioskop Nusantara. Posko kesehatan sudah didirikan di RS Hermina dan Puskesmas Kampung Melayu.
Titik kedua berada di Bidara Cina, Jakarta Timur. Jumlah pengungsi mencapai 603 KK atau 1.748 jiwa. Mereka mengungsi di SDN 05 dan Sasana Krida. Pos kesehatan sudah didirikan di Puskesmas Bidara Cina.
Titik ketiga banjir ada di kelurahan Cawang, kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Banjir setinggi 150-250 cm menggenangi 1.110 KK atau 3.076 jiwa. Namun mereka tidak mengungsi.
Titik keempat di kelurahan Cililitan, kelurahan Kramat Jati, Jakarta Timur. Dengan ketinggian air mencapai 80-150 cm, banjir menggenangi rumah 2.363 KK atau 6.833 jiwa. Mereka juga tidak mengungsi.
Terakhir, titik banjir ada di kelurahan Bukit Duri, kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Ketinggian air mencapai 20-100 cm yang menggenangi rumah 942 KK atau 1.435 jiwa. Warga mengungsi di kantor kelurahan Bukit Duri. Saat ini sudah didirikan dapur umum dan pos banjir, hanya saja pos kesehatan belum ada.
Sementara itu, hingga pukul 10.00 WIB, ketinggian air di beberapa pintu air bervariasi. Di Pulo Gadung ketinggian air mencapai 440 cm. Sedangkan di Manggarai, air mencapai ketinggian 845 cm. Untuk Karet ketinggian air adalah 500 cm, sementara Pasar Ikan mencapai 220 cm.
(sho/iy)











































