Mempertaruhkan Jatim di MK, Menguji KaJi-KarSa

Mempertaruhkan Jatim di MK, Menguji KaJi-KarSa

- detikNews
Jumat, 14 Nov 2008 06:27 WIB
Mempertaruhkan Jatim di MK, Menguji KaJi-KarSa
Jakarta - Langkah pasangan Khofifah-Mujiono selesaikan sengketa hasil Pilgub Jatim ke MK patut diacungi jempol. Tetapi ujian komitmen "siap menang, siap kalah", bukan di ruang sidang MK, melainkan di seluruh wilayah Jawa Timur.

Polarisasi yang terlanjur terjadi antar pendukung tentu rawan isu agitasi, aksi provokasi, dan black campaign. Kemampuan pasangan KAJI, dan KARSA 'menjaga' masing-masing massa dari bentrok fisik merupakan ujian sebenarnya atas kepemimpinan mereka.

Ujian kepemimpinan KAJI dan KARSA tidak hanya berhenti selama majelis hakim MK menangani kasus sengketa mereka. Tapi justru setelah putusan hukum bersifat tetap dan mengikat tentang selisih suara sebanyak 60 ribu yang bisa membalik keputusan KPUD Jatim itu dibacakan kelak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Komitmen "siap menang, siap kalah" pasti diikrarkan oleh setiap peserta pilkada, tapi hanya beberapa yang lolos melaluinya. Tidak cukup banyak pasangan kandidat yang kalah bisa berbesar hati berucap "selamat ya atas kemenangannya" pada mantan lawannya.

Salah satu contoh mencolok adalah pilgub DKI Jakarta baru lalu. Cukup melihat hasil quick count menyatakan bahwa perolehan suara Fauzi Bowo lebih unggul 573 ribu, langsung Adang Dorojatun menyampaikan ucapan selamat dan menyatakan mendukung kepemimpinan gubernur terpilih.

Adang tahu selisih 500-an ribu masih memungkinkan 'digoyang' dan bisa mengantarkannya jadi pengganti Sutiyoso. Tapi ia tak melakukan itu, sadar karena taruhannya adalah suasana kondusif DKI Jakarta.

Contoh sebaliknya ditampilkan pilgub Maluku Utara. Berbagai akal-akalan hukum dan manuver politik ditempuh yang akhirnya merepotkan semua pihak karena menambah masalah dan berbuntut kerusuhan antar massa pendukung.

Pemicu bentrok tidak lagi tudingan manipulasi suara tapi melebar pada urusan balas dendam yang sifatnya personal. Ikrar "siap menang, siap kalah" tak ubahnya 'lipstcik' bagi pasangan dua pasangan kandidat yang berlaga.

Bila melihat betapa tinggi nilai sumber daya yang dikeluarkan oleh peserta pilkada, kita bisa memaklumi betapa mereka ngotot merebut kemenangan. Tapi kalau sampai kengototan itu jadi biang perpecahan dan mengorbankan hak rakyat atas rasa aman, rasanya itu sungguh keterlaluan. (lh/ndr)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads