Ribka Tjiptaning: Hapus Stigma PKI Baru Rekonsiliasi

Iklan PKS

Ribka Tjiptaning: Hapus Stigma PKI Baru Rekonsiliasi

- detikNews
Kamis, 13 Nov 2008 11:56 WIB
Ribka Tjiptaning: Hapus Stigma PKI Baru Rekonsiliasi
Jakarta - Ajakan rekonsiliasi yang diusung PKS lewat iklan Hari Pahlawan disambut baik politisi PDIP Ribka Tjiptaning. Perempuan yang menelurkan buku 'Aku Bangga Jadi Anak PKI' ini meminta agar stigma PKI juga dihapuskan.

"Saya setuju saja ajakan PKS untuk rekonsiliasi. Tetapi harus adil. Kalau PKS mau angkat pahlawan dan guru bangsa, rekonsiliasi jangan untuk Soeharto saja. Mana rekonsiliasi untuk anak dan keluarga PKI," kata Ribka yang semasa kecil menjadi korban stigma PKI ini kepada detikcom, Kamis (13/11/2008).

Perempuan yang menjabat menjadi Ketua Komisi IX DPR ini mengatakan, sejarah harus dibuka kebenarannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nggak mungkin duduk bersama kalau stigma itu masih ada. Gimana mau rekonsiliasi kalau masih ada awas bahaya laten komunis. Saya duduk di parlemen karena sejak tahun 1983 aktif di PDIP. Tudingan itu masih dirasakan. Jadi sejarah harus ditegakkan," ujar dia.

Menurut dia, gelar pahlawan yang diberikan pemerintah masih tebang pilih.

"Kenapa orang-orang PKI tidak diberi? Padahal Soekarno pernah mengakui bahwa PKI punya andil dalam kemerdekaan RI. 2.000 Orang PKI dibuang di Digoel," cetus perempuan berkacamata ini.

Dikatakan dia, rekonsiliasi antara anak-anak dan keluarga PKI dengan NU misalnya sudah dilakukan secara horizontal.

"Hak politik keluarga PKI mana? Soeharto...keluarganya aman, hartanya aman. Tetapi bagaimana dengan keluarga Soekarno. Jadi PKS sebaiknya jangan menjadikan Soekarno sebagai lipstik padahal mau angkat Soeharto. PKS jangan malu-malu kucing," beber dia.

Perempuan bersuara berat ini menceritakan, saat berkunjung ke luar negeri foto-foto semua tokoh partai dan pemimpin rezim dipasang di gedung parlemen.

"Kita tidak ada. Sebab, ada sejarah yang gelap dan tidak dibuka. Kalau foto Aidit dipasang di DPR, nggak mau. Di luar negeri, tokoh komunisme dipasang untuk belajar dan berkaca," kata Ribka. (aan/nrl)


Berita Terkait