Disiplin Nasionalisme Kunci Hadapi Krisis Global

Disiplin Nasionalisme Kunci Hadapi Krisis Global

- detikNews
Rabu, 12 Nov 2008 17:23 WIB
Jakarta - Semangat dan sikap nasionalisme dinilai perlu digalakan kembali, khususnya dalam menghadapi krisis keuangan global saat ini. Sikap nasionalisme yang disiplin ini berguna bagi semua kalangan, terutama pengusaha untuk memproduksi barang dalam negeri.

"Sikap disiplin nasionalistik dalam mengutamakan penggunaan bahan dan komponen lokal juga harus semakin ditegakkan," kata Ketua DPP Partai Demokrat (PD) Darwin Zahedy Saleh dalam emailnya yang diterima wartawan di Jakarta, Rabu (12/11/2008).

Menurut Darwin, sikap nasionalisme ini perlu ditindaklanjuti secara lebih kongkret oleh kalangan pengusaha industri yang tergabung dalam berbagai asosiasi pengusaha.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Langkah yang sudah dimulai di kalangan gabungan pengusaha makanan dan minuman dalam memprioritaskan penggunaan komponen atau bahan lokal adalah suatu langkah maju yang patut diacungi jempol," jelasnya.

Dalam menyikapi dampak lanjut krisis keuangan global ini, lanjut Darwin, Indonesia perlu terus melanjutkan upaya memperkuat ketahanan ekonomi antara lain dengan meningkatkan intensitas diversifikasi produk dan negara tujuan ekspor, membangun lingkungan investasi yang semakin kondusif, serta memperkuat daya serap pasar dalam negeri.

Karena itu, Darwin menambahkan, langkah pembangunan infrastruktur, penegakan hukum dan reformasi birokrasi yang semakin bercitra bebas korupsi akan sangat diperlukan. Sebenarnya, Indonesia kemajuan sudah dicapai Indonesia, di antaranya peringkat kemudahan berusaha meningkat menjadi versi B Dunia (dari 133 menjadi 123), daya saing-versi World Econ Forum (di posisi 54), daya saing-versi IMD (54).

"Sehingga Indonesia masuk ke dalam 15 besar negara paling menarik untuk lokasi FDI (survei UNCTAD 2007). Posisi country risk Indonesia menurut berbagai lembaga (Moody's, Japan CRA, dan R&I) juga membaik.

"Masyarakat dunia usaha dan pemerintah perlu melanjutkan hasil kerja keras bersama itu. Kecenderungan menggunakan komponen atau produk murah impor akan melemahkan basis produksi dan daya beli DN," jelasnya.

Darwin menerangkan, ketika pasar-pasar utama ekspor dunia (AS, Japang dan Uni Eropa) melemah, mereka membutuhkan nasionalisme ekonomi. "Hal itu adalah sikap yang rasional dan bukan sentimental. Karena, bila kita hanya bisa membeli dan berdagang produk impor, semakin lama kapasitas produktif kita semakin ciut, terbatas dan memperlemah daya serap lokal," pungkasnya. (zal/rdf)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads