Forest Campaigner Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar, mengungkapkan hal itu dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (12/11/2008) di Riau. Dia mengatakan, sejauh ini dari pengamatan pihaknya memang belum ada broker yang berhasil menjual karbon dari hutan Indonesia kepada perusahaan dunia.
"Namun hal ini harus diwaspadai. Jangan sampai Indonesia terpedaya dengan konsep perdagangan karbon tersebut. Karena perdagangan karbon bukanlah solusi untuk mengatasi pemanasan global yang sudah mulai dirasakan saat ini," kata Bustar
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hutan tropis Indonesia terutama yang memiliki kandungan gambut (Wet Land) juga menjadi incaran para broker karbon. Sebab hutan gambut menyimpan karbon sehingga dapat mencegah timbulnya pemanasan global yang lebih parah.
Menurutnya, penjualan karbon sendiri sudah terjadi di sejumlah negara berkembang seperti di Costarica. Perusahaan-perusahaan dunia yang menghasilkan gas emisi rela mengeluarkan biaya besar untuk membeli karbon. Para pemilik hutan termasuk pemerintah, perusahaan pemegang hak konsesi atau perorangan wajib memelihara hutan yang telah dibeli karbonnya.
"Tapi ini tidak adil. Negara berkembang termasuk Indonesia dipaksa memelihara hutannya. Sedang perusahaan dunia terus saja menghasilkan gas emisi yang membuat pemanasan global tetap berlanjut," ujarnya.
Konsep trading karbon seperti ini harus diubah dengan keseimbangan dan kewajiban yang sama. Perusahaan di negara maju juga harus rela mengurangi emisi gas buangnya selain juga memberikan dana karbon kepada negara berkembang yang memiliki hutan.
Greenpeace sendiri hadir di Riau sejak, Selasa, (4/11) dengan kapalnya Esperanza melabuh jangkar di Sei Pakning Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis. Mereka di Riau melakukan penyelamatan dan pemantauan kawasan gambut di Semanjung Kampar, Riau yang memiliki luas sekitar 700 ribu hektare. Mereka baru akan meninggalkan Indonesia pada 15 November 2008 mendatang.
(cha/djo)











































