Sekjen PBB Desak Obama Prioritaskan Perdamaian di Timur Tengah

Sekjen PBB Desak Obama Prioritaskan Perdamaian di Timur Tengah

- detikNews
Rabu, 12 Nov 2008 06:22 WIB
Sekjen PBB Desak Obama Prioritaskan Perdamaian di Timur Tengah
Wina - Pemeran utama dalam proses perdamaian di Timur Tengah yang sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon berharap Barack Obama akan menjadikan wacana perdamaian di Timur Tengah sebagai prioritas utama setelah dirinya diangkat menjadi Presiden Amerika Serikat Januari mendatang.

Minggu lalu empat mediator perdamaian di Timur Tengah, yakni PBB , Rusia, AS, dan Uni Eropa, mengadakan pertemuan di Mesir. Mereka membahasa antara lain mengenai perdamaian antara Israel dan Palestina. Meski keadaan di Israel belum menentu, namun tahun ini diharapkan akan ada kesepakatan tentang proses perdamaian tersebut.

Ban sendiri mewakili PBB dalam pertemuannya dengan Menlu AS Condoleezza Rice, Menlu Rusia Sergei Lavrov, dan Menlu Uni Eropa Javier Solana. Pertemuan ini disebut-sebut sebagai perjalanan terkahir Rice sebelum pelantikan Obama sebagai presiden Januari mendatang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami harapkan negosiasi ini tidak akan terganggu selama masa transisi yang akan menjelang," ujar Ban seperti dilansir Reuters, Selasa (11/11/2008).

"Semua pihak akan melihat bagaimana Amerika yang akan datang berperan lebih dini dan menjadikannya sebagai prioritas utama. Tujuannya sangat jelas bagi semua, yakni diakhirinya konflik dan pendudukan, sebuah solusi bagi dua negara,' imbuhnya.

Menurut Ban, keempat mediator menyesalkan karena kesepakatan tidak mungkin dicapai hingga akhir tahun. Ban juga kembali menegaskan pentingnya mendukung Pemerintah Palestina dalam membangun keamanan dan meningkatkan kondisi kehidupan rakyat Palestina.

Sebelumnya, keempat mediator itu telah membicarakan mengenai proses perdamaian tersebut dalam sebuah perundingan di Annapolis, Maryland, hampir satu tahun yang lalu. Proses perdamaian antara Israel dan Palestina sejak awal terganggu dengan adanya kekerasan dan perselisihan atas pembangunan pemukiman Yahudi dan masa depan Yerusalem. Saat ini muncul juga kekhawatiran proses tersebut akan berantakan di tengah transisi yang terjadi di Israel dan AS. (nov/sho)


Berita Terkait