Berbeda dari sebelumnya, pameran yang digelar mulai 10 November 2008 hingga 10 Desember 2008 ini menampilkan sejumlah karya terbaru Suharno. Karya-karya tersebut dibuat dengan menggunakan 'jasa' digital, baik dalam proses pembuatan maupun produksinya.
“Saya melukis sejumlah karya dengan cat minyak. Lalu lukisan tersebut saya scan dan diolah di program photosop, termasuk menggabungkan sejumlah gambar lain, dan selanjutnya diprint dalam ukuran besar. Bila belum puas saya perbaiki lagi lukisan yang sudah diprint dengan menyemprotnya dengan tinta print,” kata Suharno menjelaskan proses karyanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pameran ini Suharno menampilkan 48 lukisan, dan hanya 5 lukisan yang menggunakan media kanvas dan cat minyak. Selebihnya menggunakan teknis print.
Karya-karya milik suami Asiah ini dijual dengan harga berkisar Rp 5 juta hingga RP 50 juta per buah.
Suharno telah beberapa kali menggelar pameran tunggal di berbagai kota, antara lain Palembang, Jakarta, Yogyakarta, dan Banda Aceh. Pameran pertama digelar tahun 1975 di Nederland Cultureel Yogyakarta, lalu di Balai Budaya Jakarta tahun 1976, dan terakhir di Dewan Kesenian Sumatra Selatan tahun 2007. (tw/sho)











































