merana. Contohnya, murid SDN Cilubang VI, Sukawening, Dramaga, Bogor, gedung
kelas barunya dikunci tiga bulan oleh kontraktor, karena dana pembangunannya
kurang.
Namun, ketika pintu-pintu kelas telah dibuka pun, murid-murid SD itu tetap
merana. Bayangkan, bila mereka belajar tanpa meja, kursi dan papan
tulis. Merka pun tetap keleleran di lantai kelas sekolah.
"Sudah tiga sampai empat bulan gedung baru dikunci pemborong. Baru pagi ini
dibuka kunci pintunya, itu pun kami tidak tahu siapa yang membukanya," kata
Ujer Tarmiji (38) guru SDN Cilubang VI saat ditemui detikcom di
sekolah yang terletak di atas bukit di Desa Sukawening, Kecamatan Dramaga,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dana rosering (semacam dana rehabilitasi gedung sekolah) dari Pemprov Jawa
Barat sebesar Rp 120 juta. Dana sebesar itu untuk memugar bagian gedung
sekolahnya yang ambruk sejak tahun 2004-2005.
Namun ketika dana itu turun, Kepala Sekolah SDN Cilubang VI Fatimah
mengalami sakit, sehingga dananya langsung dikelola oleh seorang staf Unit
Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendirikan, Kecamatan Dramaga.
"Staf bagian apa orang yang mengelola dana itu, saya tidak tahu. Dia
mengelola sendiri tanpa musyawarah sehingga terjadi persoalan seperti ini,"
jelas Ujer yang mengajar murid Kelas VI ini.
Pembangunan gedung baru itu sempat terhenti, tinggal pemasangan kusen
jendela, pintu, plafon dan genteng yang belum dilakukan. Namun pembangunan dilanjutkan kembali oleh pemborong pada bulan Juli 2008 lalu hingga selesai.
"Setelah selesai awal Agustus kemarin, ketika guru dan murid mau pakai
enggak bisa. Soalnya gedung yang tiga lokal (kelas) ini pintunya dikunci
pemborong, alasannya setelah selesai awal agustus, mau pakai pembayaran proyek belum selesai," ujar Ujer lagi.
Akibatnya, para murid SD itu terpaksa belajar diemperan dan halaman gedung
sekolah. Bahkan, lanjut Ujer, pada tanggal 19 September 2008, pemborong
bernama Rosadi sempat mau membongkar lagi gedung yang dibangunnya itu.
"Kita tetap minta bertahan jangan dibongkar, janjinya Rosadi mau
menyelesaikan sampai enggak dibuka itu pintu-pintu kelas," tandasnya.
Menurut Ujer, sebenarnya para guru tidak mengetahui menahu persoalan itu.
"Kita mah tahunya beres aja. Lah kok ada persoalan kayak ini, kasian
anak-anak," katanya lagi.
Ujer juga mengatakan SDN Cilubang VI sudah berdiri sejak tahun 1984 silam.
Saat ini memiliki siswa sebanyak 121 orang. Sekolah ini pun menerima BOS
setiap tiga bulanan, sehingga semua siswa dibebaskan dari iuran sekolah dan
pungutan lainnya.
"Pokoknya gratis semua, Alhamdullilah. Tapi, Akang liat, walau
gedungnya baru tapi nggak ada kursi, meja dan papan tulis. Mudah-mudahan
segera dipenuhi lah," imbuh Ujer penuh harapan.
Saat ini, karena Kepala Sekolah SDN Cilubang VI sedang sakit, maka dijabat
sementara oleh Husein, Kepala Sekolah SDN Cilubang I. Sementara kasus
penyelewengan dana rosering yang dilakukan oknum staf UPTD Pendidikan
Kecamatan Dramaga sendiri tengah diproses secara hukum.
"Saya kurang tahu staf UPTD itu persisnya sampai mana, apa dibawa ke jalur
hukum atau gimana? Saya nggak tahu," pungkasnya.
(zal/lrn)











































