Namun pengamat komunikasi politik dari Universitas Gadjah Mada Hermin Indah Wahyuni justru menilai iklan kontroversial itu merupakan strategi yang bagus.
"Itu strategi mengambil posisi minor untuk dijual. Itu bagus dan berani," kata Hermin saat berbincang dengan detikcom, Selasa (11/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira mereka sudah siap bakal banyak yang protes. Iklan itu akan menimbulkan perhatian masyarakat. Mereka (PKS) pasti senang," ujar perempuan yang menyelesaikan S3 di Jerman itu.
Hermin juga berpendapat, tuntutan untuk menarik iklan-iklan PKS terlalu berlebihan. Sikap itu, menurutnya, sungguh tidak demokratis.
"Itu sah-sah saja dalam komunikasi politik. Itu juga bukti keberanian PKS," tandasnya.
Iklan PKS bertema Hari Pahlawan tayang di berbagai televisi nasional. Iklan itu dikritik karena menampilkan gambar Soeharto yang disandingkan dengan Soekarno, KH Ahmad Dahlan, M Natsir dan beberapa pahlawan lainnya.
Dalam iklan itu, PKS menyebut mereka sebagai pahlawan dan guru bangsa. Padahal, hingga saat ini, pemerintah belum pernah mengangkat Soeharto sebagai pahlawan.
Sementara itu
Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin meminta iklan itu ditarik karena menampilkan tokoh Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, tanpa izin.
Ingin berdiskusi mengenai Soeharto? Ikuti Pro dan Kontra! (ken/nrl)










































