Pada Oktober lalu, dengan kecenderungan Obama akan memenangi pilpres AS, penjualan senjata api melonjak 15 persen. Sekitar 150.000 pucuk senjata laras panjang terjual dari total 1,18 juta senjata api yang dibeli warga bulan itu.
Demikian menurut Biro Investigasi Federal AS (FBI) yang melakukan pemeriksaan catatan polisi dari para pembeli senjata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu saja pemilihan ini ada kaitannya dengan itu, pastinya dalam bulan Oktober. Seiring dengan semakin dekatnya kemenangan Obama, penjualan meroket pada akhir Oktober," ujar Tony Aeschliman, juru bicara Yayasan Olahraga Menembak Nasional seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (10/11/2008).
Lonjakan penjualan senjata itu terjadi di toko-toko senjata di berbagai penjuru AS. "Mereka khawatir akan pengendalian senjata. Amandemen Kedua Konstitusi menyatakan bahwa secara hukum kita bisa memiliki senjata api," kata Jimmy, pemilik toko senjata Republic Arms di Houston, Texas.
"Dia (Obama) akan berupaya merampas hak itu dari kita," imbuhnya.
Pendapat senada diungkapkan pemilik toko senjata lainnya, Jay. Menurutnya, lonjakan pembelian senjata oleh masyarakat dipicu oleh kemenangan Obama yang sangat anti-senjata.
Selama kampanye kepresidenan, Obama menyatakan dirinya menghormati hak-hak warga yang tertuang dalam Amandemen Kedua Konstitusi AS. Namun sebagai Senator Illinois, dalam pengambilan suara Obama menyetujui beberapa langkah pembatasan penjualan jenis senjata api tertentu. (ita/iy)











































