Di usianya yang menjelang remaja, Rafi seharusnya menikmati hidup penuh ceria. Bersekolah maupun bermain dengan kawan-kawan sebaya. Namun semua itu hanya impian. Rafi hanya bisa terbaring dengan tatapan kosong. Dia mengalami kelumpuhan total.
"Tak banyak yang bisa dilakukannya selain terbaring di kamar tidur. Jangankan pergi ke sekolah, makanpun Rafi tidak sanggup. Setiap hari dia hanya minum susu," ujar Asnawi Buket, Ayah Rafi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asnawi menceritakan, penyakit tersebut di derita Rafi saat ia masih berusia 10 tahun. Awalnya Rafi mengalami panas tinggi dan sering terjatuh. "Waktu itu Rafi saya titipkan di panti Asuhan," ungkap Asnawi.
Sejak saat itu kesehatan Rafi semakin memburuk dan sering sakit-sakitan. Sampai akhirnya bocah lelaki itu tak mampu berdiri. Asnawi tak mampu membawa anak semata wayangnya ke dokter karena tidak mempunyai biaya.
"Sebagai orang tua, saya sangat berharap kesembuhan Rafi. Hanya dia yang saya punya setelah istri saya meninggal saat tsunami," tuturnya penuh iba.
Sehari-hari, Asnawi hanya menjaga anaknya yang terkulai di tempat tidur. Tidak ada satupun pekerjaan yang dia miliki. "Dulu saya ada jualan di kios, tapi karena butuh biaya, kios itu pun saya jual. Apalagi sekarang saya harus menemani Rafi," ujarnya.
Asnawi berharap, ada para dermawan, pemerintah dan lembaga kemanusiaan peduli terhadap nasib Rafi. Karena hingga kini kondisi anaknya semakin parah. Selain tak mampu berdiri, Rafi juga tak mampu berbicara dan menggerakkan badannya.
"Semoga ada orang dermawan yang mau memperhatikan kesembuhan anak saya," ujar Asnawi lirih.
(djo/djo)











































