"Itu telepon dari Petugas Pelayan KA (PPK) di Stasiun Jatinegara," ujar laki laki beristrikan Uswati, perempuan asal Gombong, Jawa Tengah, kepada detikcom, Senin (10/11/2008) di tempat kerjanya.
Bagi Wahyudi, pekerjaan yang telah digeluti selama 15 tahun merupakan panggilan hati. Pengabdian. Selama 9 tahun pula, dia ditugaskan menjaga pintu KA yang hanya berjarak 100 meter dari Stasiun Jatinegara. "Di sini sangat sibuk arus KA. Bisa 1 menit sekali lewat. Dan sekali lewat, kadang langsung dari dua arah," tutur ayah beranak 2 tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sehari, ada tiga shift yang menjaga pos berukuran 2 x 2 meter itu dengan petugas jaga 1 orang per shift. Adapun yang bertugas sebanyak 4 orang sehingga ada yang mendapat libur tiap harinya. Masing-masing petugas berjaga yaitu 2 hari shift pagi, 2 hari shift siang dan 2 hari shift malam. "Kalau lebaran dapat jaga ya harus jaga. Tidak ada libur lebaran," kisah Wahyudi.
Menurutnya, menjadi penjaga rel KA harus pandai-pandai berhemat. Dengan penghasilan sekitar Rp 1 juta/bulan, dia harus menyisihkan untuk makan, sekolah anak-anak, kesehatan dan sebagainya. "Istri di rumah membantu jualan pulsa serta gas LPG yang kecil. Buat nambah menyambung hidup," ujar orang Betawi asli ini.
Meski bukan pekerjaan kantoran, dirinya tetap disiplin. Dia selalu tampil rapi dengan baju seragam warna biru, celana kain, sepatu hitam serta topi. Sesekali dibantu peluit dan bendera kecil untuk menghalau kendaraan yang menyerobot. Jika tugas malam, dia asyik bergabung dengan para tukang ojek yang berada di samping "kantornya". Musik dangdut dari radio dual band pun menjadikan tugasnya lebih ringan bersama ojekers.
Pekerjaan ini membuat Wahyudi sulit klenang-klenong saat jam kerja. "Wah, bahaya kalau sampai ditinggal. Saya tidak berani," jawabnya mantap penuh dedikasi. (asp/nrl)











































