Kuta Masih Merana, Wisatawan Tak Seramai Sebelum Bom

Amrozi Cs Segera Dieksekusi

Kuta Masih Merana, Wisatawan Tak Seramai Sebelum Bom

- detikNews
Jumat, 07 Nov 2008 11:03 WIB
Kuta Masih Merana, Wisatawan Tak Seramai Sebelum Bom
Kuta - Bom Bali I telah memporakporandakan Kuta, Bali, enam tahun berlalu. Pelaku bom Bali, Amrozi, Imam Samudra dan Muklas, akan segera dieksekusi mati. Seperti apa Kuta kini?

Pantauan detikcom, Jumat (7/11/2008),Β  telah dibangun berbagai infrastruktur di kawasan wisata ini. Namun, kehidupan ekonomi Kuta kini belum pulih seperti dulu lagi.

Kawasan lokasi ledakan telah tertata rapi. Monumen bom Bali dibangun di lokasi ledakan. Jalanan Legian yang padat telah dipaping. Di kanan-kiri telah berdiri toko yang menawarkan produk kualitas ekspor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di lokasi ledakan kedua,Β  Paddy's pun sedang dibangun restoran mewah. Dulu, Paddy's hancur luluh lantak akibat hantaman ledakan.
Hanya lokasi ledakan di Sari Club yang masih terlantar. Lokasi yang menjadi terpanggangnya ratusan nyawa ini dijadikan lahan parkir.
Namun dibangunnya infrastuktur tersebut tidak mampu menjadikan Kuta seperti sebelum ledakan.

Kehidupan ekonomi para pedagang souvenir yang dulu mampu meraup keuntungan berlimpah kini hanya gigit jari. Mereka juga kalah bersaing dengan toko mewah yang menawarkan produk berkualitas ekspor.

Kondisi ini dialami toko souvenir Laksana Sari yang lokasinya sekitar 50 meter dari pusat ledakan. Toko yang sehari-hari dijaga oleh Wayan Kamariana ini menawarkan layang-layang, kain, serta pakaian corak khas Bali.

Toko ini juga menjadi sasaran ledakan. Atap bangunan hancur. Serpihan tubuh manusia dan logam mampir di atas toko ini. Akibat ledakan, pendapatan toko ini turun dratis.

"Setelah bom, tidak ada wisatawan yang belanja kira-kira selama 3 bulan. Memasuki bulan kelima baru ada satu atau dua orang wisatawan yang berbelanja," kata Wayan kepada detikcom.

Meskipun pendapatan surut, mereka tetap tabah. Pemilik toko ini tak berniat mengontrakkan lokasinya seperti yang dilakukan pemilik lahan di Kuta lainnya.

Alasannya, toko ini harus dipertahankan dengan kondisi apapun. Ketabahan mereka membuahkan hasil. Pendapatannya mulai melonjak. Omset sehari mulai mencapai angka Rp 800 ribu pada bulan ketujuh. "Sebelum ada bom Bali II, omset kita sudah mencapai Rp 3 juta per hari," kata Wayan.

Bom Bali II kembali meluluhlantakkan ekonomi Kuta. "Teman-teman saya banyak yang di PHK. Beruntung saya masih bertahan," ujarnya.
Wayan pun kerap membandingkan kondisi ekonomi sebelum dengan setelah bom Bali I meledak. Ia mengatakan pendapatan kini tidak sebesar sebelum bom Bali I.

Ia mengaku bahwa sebelum bom, pihaknya kerap menerima orderan layang-layang mencapai 150 juta dari luar negeri. Namun, kini orderan layang-layang maksimal hanya Rp 5 juta per bulan. "Badan saya sampai pegal membungkus ribuan layang-layang," katanya.

Wayan pun sering terkenang dengan maraknya hilir mudik wisatawan di Legian pada bulan Agustus sebelum terjadi bom. "Kini tidak seramai dulu. Pada malam minggu, Kuta tetap ramai hingga pukul 5 pagi," katanya.

(gds/iy)


Berita Terkait