Ketika Malam di Kuta Mendadak Sepi

Misteri Eksekusi Amozi cs

Ketika Malam di Kuta Mendadak Sepi

- detikNews
Jumat, 07 Nov 2008 08:23 WIB
Denpasar - Detik-detik menjelang eksekusi terpidana mati bom Bali Amrozi cs berpengaruh
terhadap denyut nadi Kuta. Kawasan wisata yang selalu bergairah setiap malam, kini mendadak sepi.

Demikian pantauan detikcom, pukul 23.30 wita, Kamis (6/11/2008) di kawasan
wisata Kuta. Kuta telah dua kali menjadi lokasi ledakan, yaitu ledakan dahsyat pertama 12 Oktober 2002 dan kedua 5 Oktober 2005.

Suasana lengang, yang tidak seperti hari biasa, mulai terasa dari simpang siur. Memasuki kawasan Kuta, suasana sedikit lebih ramai. Hanya saja, tidak tampak deretan taksi yang bergerak pelan di sepanjang jalan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kuta square yang biasanya diwarnai kemacetan tidak terjadi malam kemarin.
Bahkan, sangat sedikit kendaraan pribadi, sepeda motor dan taksi yang melintas di kawasan yang pernah menjadi sasaran teroris pada bom Bali II tersebut.

Suasana serupa juga terjadi di jalan Pantai Kuta. Tidak terjadi kemacetan.
Sedikit mobil dan motor parkir di pinggir sepanjang jalan. Beberapa tempat
hiburan malam, seperti kafe dan pub tetap beroperasi diiringi dentuman musik, meskipun hanya sedikit tamu yang berkunjung menikmati malam.

Suasana yang agak berbeda terjadi di jalan Legian. Lokasi ini masih menjadi
lokasi favorit wisatawan asing untuk menghabiskan malam. Puncaknya terjadi sejak pukul 23.00 wita hingga 03.00 wita dini hari.

Namun, malam kemarin tidak terjadi antrean kendaraan di kawasan ini. Toko yang menawarkan suvenir serta kafe berukuran kecil juga memilih tutup lebih awal.

"Malam ini sepi. Tidak ada tamu yang berani keluar. Taksi juga sedikit karena tidak ada tamu," kata seorang sopir taksi Gede Ardana yang mangkal di Jl Pantai Kuta kepada detikcom.

Menurutnya, sepinya wisatawan pada malam hari karena takut jika sewaktu-waktu terjadi ledakan. "Kalau tamu yang keluar ke pub atau kafe pada malam hari itu hanya mereka yang nekat," katanya berseloroh.

Kondisi ini berdampak pada pendapatan sopir taksi dalam semalam. Bahkan karena sepinya wisatawan asing serta rasa takut menjadi korban aksi teroris, banyak sopir yang memilih tidak beroperasi di malam hari.

"Tamu yang bertanya kapan eksekusi, selalu saya jawab tidak tahu," kata Ardana. (gds/ndr)


Berita Terkait