Tumini merupakan salah satu korban selamat dari bom Bali yang menewaskan 202 orang dan melukai ratusan orang tersebut. Tumini, selamat dari amukan ledakan meskipun pada 12 Oktober 2002 malam itu ia berada di salah satu pusat ledakan di Paddy's pub.
Saat itu, Tumini datang ke Paddy's untuk mengantar temannya yang juga beruntung selamat dari ledakan. Tumini mengalami luka yang cukup serius. Sekujur tubuhnya terbakar mulai dari kaki hingga kepala.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain mengalami luka bakar serius, telinga Tumini pun mengalami gangguan akibat suara ledakan yang menyalak di dekatnya. Di dalam payudara terdapat serpihan logam serta ususnya keluar dari perutnya yang robek.
Kini kondisi Tumini telah pulih kembali meskipun bekas luka bakar masih membekas di beberapa bagian tubuh, seperti tangan, kaki hingga wajah. "Telinga saya hanya berfungsi sebelah. Genderang telinga kiri tidak berfungsi total," tutur Tumini kepada detikcom.
Praktis, ia hanya mendengar melalui telinga bagian kanan. Kondisi Tumini membaik setelah ia menjalani operasi sebanyak 6 kali. Ia menjalani operasi penyembuhan luka bakar dan telinga di RSUP Sanglah, Denpasar dan sebuah rumah Sakit di Australia.
Biaya perawatan Tumini ditanggung sepenuhnya oleh rumah sakit tersebut serta yayasan yang menyantuni para korban bom Bali. Yayasan itu adalah YKIP (Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi) dan Yayasan Kids.
Selain mendapatkan tanggunggan kesehatan, kehidupan Tumini pun ditanggung sepenuhnya oleh yayasan ini. Segala jenis kebutuhan hidup, seperti makan, pakaian, hingga seluruh biaya sekolah untuk seorang anaknya ditanggung oleh yayasan. Ia mendapatkan santunan sebesar Rp 600 ribu per bulan untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Namun, bantuan kebutuhan hidupnya tersebut berakhir sejak tahun 2005. Yayasan hanya tetap membiayai kebutuhan sekolah anaknya hingga sarjana nanti.
Sejak bantuan itu terputus, Tumini harus berjuang ditengah deritanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Berutung, Tumini memiliki pengalaman kerja.
Sebelum tidak berdaya akibat ledakan, Tumini bekerja sebagai karyawan laundry di kawasan Kuta.
Kini ia bekerja sebagai tukang cuci panggilan di beberapa rumah langganannya, yaitu rumah tangga anggota TNI AU. "Sejak bantuan diputus, saya kerja nyuci, menyetrika ke rumah-rumah," ujarnya pasrah.
Lumayan, ia mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membiayai kebutuhannya. Namun, ia tidak mendapatkan penghasilan sebesar teman-teman seprofesinya. Sebulan ia mengantongi penghasilan Rp 300 ribu. "Dulu semasih kerja sebagai karyawan laundry saya mendapatkan uang Rp 800 ribu sebulan," katanya lirih.
Maklum, ia tidak setangguh dulu. Fisiknya cepat lelah jika bekerja seharian. "Kondisi saya tidak sekuat dulu. Sekarang tidak stabil. Capek sedikit, saya tidak mampu lagi bekerja," tuturnya.
Semangat Tumini bekerja pun terhalang oleh matahari. Ia tidak mampu menuntaskan pekerjaan di tengah sengatan panasnya matahari. Hal ini diakibatkan karena sekujur tubuh termasuk wajahnya menjalani operasi plastik untuk menyembuhkan luka bakar di kulit.
"Kalau terkena panas matahari, kulit wajah, tangan dan kaki, badan terasa panas. Rasanya kulit mengkerut seperti karet melepuh. Panas dan sakit sekali," katanya.
Tumini tidak patah semangat. Ia tetap bekerja sepenuh hati. Untuk menghindari sengatan matahari, ia hanya bekerja pada pagi dan sore hari. "Jadi saya hanya dapat uang sedikit. Tapi saya bersyukur langganan memaklumi kondisi saya dengan tidak mencari tenaga pengganti," kata Tumini.
Meskipun dengan kondisi tertatih, Tumini harus tetap melanjutkan hidupnya dengan berdikari. "Kalau tidak begini saya tidak akan makan," demikian Tumini yang telah hidup menjanda ini. (gds/iy)










































