Willy de Weerd: DPR Harus Ubah Budaya Boros

Laporan dari Schiedam, Belanda

Willy de Weerd: DPR Harus Ubah Budaya Boros

- detikNews
Kamis, 06 Nov 2008 14:30 WIB
Willy de Weerd: DPR Harus Ubah Budaya Boros
Schiedam - Gaya hidup boros dan jor-joran menghamburkan uang negara oleh anggota DPR periode 2004-2009 harus diakhiri dan tidak ditiru anggota DPR yang akan datang.

Demikian benang merah talkshow interaktif pada acara halal bihalal oleh Pusat Informasi dan Pelayanan PKS Belanda di Schiedam Islam Merkezi (2/11/2004).

Acara ini menampilkan narasumber Direktur Keuangan Samsung Belanda yang juga Ketua Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) Willy de Weerd MBA, Manajer TI Accenture Seno Sumadji SE dan anggota DPR RI dari PKS Hilman Rosyad Syihab di Schiedam (2/11/2004), dihadiri beberapa pejabat KBRI Den Haag dan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Willy, anggota DPR RI bisa mengaca pada anggota parlemen Belanda yang tidak mengambil porsi anggaran negara lebih besar, sehingga bisa untuk pos sosial dan kesejahteraan rakyat. "Meskipun Belanda negara kaya, namun take homepay anggota parlemen cuma EUR 7.000. Itu bruto, belum potong pajak," ujar Willy.

Jadi take homepay bersihnya cuma EUR3360 per bulan, setelah dikurangi pajak penghasilan 52% menurut tarif 2008 untuk wajib pajak di bawah usia 65 tahun. Itu berarti gaji parlemen Belanda tidak lebih dari 2 atau 3 kali gaji sarjana dengan pengalaman kerja n tahun, di mana n tergantung pada bidang profesi dan kontrak kerja (CAO) atau sekitar 6 kali upah minimum.

"Dan jam kerja mereka lebih dari 70 jam seminggu (jam kerja resmi 36 jam seminggu, red). Komitmen mereka pada rakyat sangat tinggi," ujar Willy.

Terkait derasnya perjalanan DPR RI mengunjungi hampir negara-negara di seluruh dunia, kecuali bagian Afrika hitam yang kurang menarik, Willy menukas, "Saya melihat banyak hal yang sesungguhnya tidak perlu terjadi. Boros,"

Hilman Rosyad Syihab setuju agar DPR berperilaku efisien. Tapi Hilman menggarisbawahi bahwa eksekutif Indonesia jauh lebih boros lagi. "Apa yg kemudian terjadi di DPR itu agak sulit melakukan perbandingan, jangan dengan DPR luar negeri, tapi dengan eksekutif. Eksekutif itu jauh lebih boros lagi," kata Hilman.

Dikatakan bahwa dia sendiri sudah peduli pada efisiensi. "Contoh konkrit efisiensi itu saya ada 6 perjalanan dinas, tapi dikurangi jadi 3 saja," demikian Hilman. (es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads