Makam Megah Itu Dirusak Orang Tak Dikenal

Renovasi Makam Amir Sjarifoeddin

Makam Megah Itu Dirusak Orang Tak Dikenal

- detikNews
Rabu, 05 Nov 2008 17:32 WIB
Makam Megah Itu Dirusak Orang Tak Dikenal
Solo - Makam Amir Sjarifoeddin dan sepuluh tokoh PKI lainnya di Ngaliyan, Karanganyar, pernah dibangun cukup megah dan selalu menjadi tempat perziarahan. Namun makam itu lalu dirusak orang tak dikenal pasca peristiwa G30S.

Pada tahun 1950, Djaenah, istri Amir Sjarifoeddin, pernah bertemu Bung Karno. Dalam pertemuan itu, Djaenah memohon agar bisa memindahkan makam suaminya ke Jakarta. Permintaan itu ditolak. Namun Bung Karno mengizinkan mayat Amir dan sepuluh kawanmya itu dikubur ulang.

Selanjutnya pada tahun 1953 makam kesebelas tokoh PKI itu dibongkar kembali. Tulang-belulangnya dikumpulkan dan diindentifikasi oleh tim dokter. Selanjutnya dikubur kembali di tempat yang sama dengan lebih layak. Hal tersebut dilakukan karena permintaan keluarga agar jenazah mereka dipindahkan ke tempat lain, ditolak Pemerintah saat itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tulang Amir Sjarifoeddin dikubur paling barat atau paling, di sebelah kirinya berjajar sepuluh temannya. Mulai saat itu makam tersebut selalu ramai dikunjungi oleh keluarga dan simpatisan PKI. Hal tersebut bertahan hingga tahun 1965.

"Saat itu saya masih kecil. Tapi karena rumah saya dekat dekat dengan makam, hanya juga sering melihat orang-orang yang ramai berziarah terutama di hari Minggu. Saya juga sering bermain-main di bangunan makam tersebut karena tempatnya cukup enak," papar Rakidi, warga setempat.

Rakidi masih ingat bangunan rumah atau cungkup makam kesebelas tokoh itu cukup megah saat itu. Lantainya terbuat dari tembok yang disemen, sedangkan bangunannya terbuat dari kayu pilihan dan beratap genteng. Padahal saat itu rumah-rumah warga masih beralas tanah dan berdinding bambu.

Karena bangunannya yang megah dan kokoh, tidak hanya Rakidi dan teman seusianya yang memanfaatkan bangunan itu. Warga setempat juga sering menggunakan untuk berteduh atau sekedar istirahat jika sedang ada keperluan ke makam. Selain itu tentunya warga juga sering kecipratan sedikit rezeki dari peziarah.

Rakidi juga ingat ada sebelas nisan di dalam cungkup besar tersebut. Nisannya terbuat dari batu yang cukup mahal. Di masing-masing nisan tedapat nama-nama yang dikubur di dalamnya.

Namun setelah peristiwa G30S, pamor makam itu kembali pudar. Apalagi tak lama setelah itu ada beberapa orang tak dikenal yang datang ke makam tersebut. Nisannya dihancurkan, bangunannya dirusak hingga menjadi condong. Selama beberapa tahun bangunan itu masih bertahan dalam kondisi rusak. Sedangkan peziarah tidak lagio ada yang datang.

"Dulu waktu masih Orde Baru, warga setempat pernah berinisiatif merehab lagi cungkup-nya. Alasannya warga biar bisa kembali dimanfaatkan untuk berteduh kalau sedang ada acara ritual kampung di makam atau kalau sedang memakamkan warga yang meninggal. Tapi niatan itu batal karena dilarang oleh Pemerintah," ujar Rakidi.

Karenanya seiring perjalanan waktu, makam Amir dan sepuluh kewannya itu menjadi terbengkalai. Bangunannya ambruk dan akhirnya lapuk. Sisa-sisa dasar bangunan juga berantakan. Di atasnya tumbuh rumput liar yang tetap dibiarkan tumbuh karena warga takut Pemerintah mempermasalahkan jika merawatnya. (mbr/djo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads