SB, begitu dia biasa dipanggil, mengatakan tampak jelas masyarakat AS benar-benar mencari tahu tentang para capres dari media massa. Mereka juga menyumbang dana dan mejadi sukarelawan, tanpa motivasi finansial sama sekali.
"Seorang kawan aktivis Demokrat di San Francisco 2 minggu lalu membuat sebuah pesta kampanye kecil yang melibatkan 80 orang. Setiap orang menelepon 10 orang (dari HP masing-masing dan melakukan percakapan dengan calon pemilih tentang Obama. Dalam 1 jam saja, ada 800 orang yang telah didekati oleh para sukarelawan ini," ujar SB kepada detikcom melalui emailnya, Rabu (5/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika kita berkomitmen memberikan pendidikan politik agar rakyat bisa membuat 'informed" choice, maka peluang kepemimpinan berkualitas akan jauh lebih tinggi," ujar SB.
SB juga menyinggung soal aturan dalam pemungutan suara. Menurutnya aturan pemilihan presiden secara langsung di AS berbeda dengan apa yang diterapkan di Indonesia.
"Di AS pilihan rakyat akan digunakan untuk menentukan kemenangan negara bagian. Tiap negara bagian memiliki proporsi suara tertentu. Suara partai terbanyak akan memenangkan seluruh suara yang diperebutkan di negara bagian tersebut (the winner takes all). Calon presiden yang memenangkan minimum 270 suara adalah pemenangnya," tutur SB.
(djo/iy)











































