"Saya ingin tahu motivasi kekerasan pada anak SMU 26. Saya tanya ke kepala sekolahnya masih belum jelas motifnya," kata Kak Seto di Mapolres Jaksel, Jl Wijaya, Selasa (4/10/2008).
Sayangnya Kak Seto hanya bisa menemui 2 korban, sedang seorang lainnya berinisial G telah pulang lebih dahulu sekitar pukul 21.20 WIB, diantar orang tuanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kak Seto yang datangs ekitar pukul 21.35 WIB, langsung memasuki ruangan pemeriksaan. Dia pun berbincang sekitar 30 menit dengan korban bernama Satria (nama samaran) dan M.
"Harus ada sosisalisasi agar orang tua tidak hanya memberi anak dengan tuntutan prestasi, tapi juga peduli dengan persoalan mereka selama ini," ucap Kak Seto.
Dan sekitar pukul 22.20 WIB, korban dan keluarga mereka beranjak meninggalkan Polres Jaksel. "Harapan kami pihak sekolah lebih selektif menerima karyawan, bagaimana reputasi, akhlak, dan keluarganya jangan hanya melihat karier," ucap orang tua korban berinisial M.
ketika ditanya mengapa pihak sekolah tidak tahu setelah 10 tahun kejadian berjalan, orang tua M hanya menjawab singkat. "Ini hanya petunjuk Allah dalam membuka kasus ini," ucapnya.
Sedang Kak Seto menegaskan bila Komnas Anak akan terus memonitor kasus ini. "Ini tergantung pembuktian seberapa jauh kasus ini melakukan pelanggaran. Dan ini juga peringatan bagi orang tua agar berkomunikasi," tandasnya. (ndr/irw)











































