Meski sempat panik, para penambang pasir berhasil menyelamatkan diri. Demikian pula dengan belasan truk pasir yang ada di tengah Sungai Gendol juga berhasil selamat dengan menaiki bantaran sungai yang lebihΒ tinggi.
"Ini merupakan hujan deras yang pertama kali sejak musim penghujan turun, sehingga air cepat surut. Kalau bukan yang pertama truk-truk itu akan habis terjebak banjir," kata Sri Widodo salah seorang warga Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan kepada detikcom melalui telepon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua penambang berhasil naik, setelah kita pantau aliran air yang sampai kawasan sebelah utara Jambu. Setelah itu, tidak ada truk dan penambang yang turun mencari pasir lagi" katanya.
Dia mengatakan warga maupun para relewan Merapi terus melakukan pemantauan di sepanjang aliran Sungai Gendol selama musim penghujan saat ini. Sebab diperkirakan aliran air yang turun dari puncak Merapi menuju
hulu sungai akan semakin deras.
"Karena ini banjir yang pertama kali air cepat surut, namun pada bulan Desember nanti air akan semakin besar kembali," katanya.
Saat ini, kata dia, ada ratusan truk pasir yang masuk ke Kali Gendol melalui Dusun Kopeng Desa Kepuharjo. Truk-truk pasir itu terus masuk ke utara hingga Dusun Jambu yang berjarak sekitar 7-8 km dari puncak.
Saat ini masih ada jutaan meter kubik pasir sisa erupsi 2006 yang masih berada di puncak dan hulu Sungai Gendol. Material itu akan terus sewaktu-waktu bila puncak terjadi banjir akibat diguyur hujan deras berjam-jam.
"Pasir di bawah sudah habis, tapi para sopir truk tetap nekat masuk. Kalau semakin ke atas bisa bahaya saat musim hujan seperti ini. Kami hanya bisa mengimbau kalau hujan deras hendaknya jangan turun," pungkas dia. (bgs/djo)











































