Hilang 11 Hari, Ginga Ber-IQ 140 dan Punya Sixth Sense

Hilang 11 Hari, Ginga Ber-IQ 140 dan Punya Sixth Sense

- detikNews
Senin, 03 Nov 2008 09:50 WIB
Hilang 11 Hari, Ginga Ber-IQ 140 dan Punya Sixth Sense
Jakarta - Ginga Amirul Muiz (15), siswa kelas 3 SMP Budiwarman I Kramatjati yang hilang sejak Jumat 24 Oktober 2008, ternyata genius dengan intelligent quotien (IQ) 140. Orang tuanya juga baru tahu kalau Ginga memiliki sixth sense atau indera keenam.

Kelebihan Ginga memiliki indera keenam ini disadari ayahnya, Iwan Purnama saat bertanya kepada 12 orang pintar tentang hilangnya Ginga.

"Kata mereka (orang pintar) kalau hilang karena anaknya nakal atau bandel, jika pergi mudah memanggil kembali. Tapi ini agak berbeda, auranya juga kuat karena tanpa setahu saya anak saya punya sixth sense juga, saya jadi percaya," ujar ayah Ginga, Iwan Purnama ketika dihubungi detikcom, Senin (3/11/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iwan pun merunut kejadian-kejadian yang pernah dialami Ginga, seperti yang diceritakan teman-temannya, atau bahkan dari cerita Gingga sendiri.

"Di sekolah temannya bilang, saat istirahat atau pulang sekolah Ginga masih ada di kelas dan bercakap-cakap sendiri," kisah Iwan.

Bahkan, menurut Iwan, anaknya disadari tidak hanya berkomunikasi secara verbal, tetapi sudah dari hati ke hati dengan makhluk halus itu. Bahkan, Ginga bisa memanggil makhluk halus bila mau.

"Dia katakan pernah ngerjain teman-temannya. Waktu foto-foto di rumah tua, dia berkomunikasi dengan yang ada di dalam rumah, dan muncul di fotonya. Temannya ketakutan, dia sih ketawa aja. Saat itu saya tidak percaya," imbuh Iwan.

Dari serentetan kejadian itu, dan hilangnya Ginga saat ini, Iwan barulah percaya akan kelebihan putranya. Satu lagi, putranya itu memiliki IQ di atas rata-rata, 140.

"Karena emotional quotien (EQ)-nya masih rendah jadi mungkin dianggap ngaco kalau ngomong dengan teman-temannya. Ngomongnya sudah tentang ekonomi, politik dunia, perang Amerika di Irak," ujar Iwan.

Karena ketidakseimbangan IQ dan EQ itu, imbuh Iwan, putranya sering tidak nyambung berbicara dengan teman sebayanya, dan mencari 'teman' lain.

"Seperti autis hiperaktif tidak punya kawan yang cocok karena pemikirannya berbeda. Saya pikir dulu itu cuma teman khayalan," tuturnya.

Ginga, menurutnya, juga sering tidak mematuhi peraturan di sekolahnya. Saat ulangan, misalnya, jika Ginga sedang tidak ingin ulangan, dan ingin membaca buku, maka dia keluar kelas dan membaca buku di perpustakaan kemudian kembali ke kelas.

"Aturan adalah apa yang dia inginkan, sekolah semau-mau dia. Tidak bisa optimal. Dia mengatakan bosan sekolah dan ingin kuliah. Saya ceritakan dan sekolahnya punya toleransi besar," keluh Iwan dengan sedih.

"Saya hanya pesan supaya anak-anak kita tidak dibawa ke tempat yang sunyi. Karena anak saya mulainya demikian, waktu itu ke hutan," pesan Iwan. (nwk/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads