Kegiatan itu dimulai dengan gempa bumi yang ditandai dengan bunyi dentuman. Sesaat setelah dentuman, kepanikan warga serta bunyi alarm pedeteksi tsunami membuat seorang bocah korban tsunami yang sedang berlibur di Pantai Cermin, Ulee Lheu menangis histeris.
Selain itu, beberapa ibu-ibu juga jatuh pingsan karena kepanikan saat 4 ribu warga yang menjadi peserta kegiatan tersebut mulai berlari menyelamatkan diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simulasi tersebut menggunakan sistem peringatan dini dari hulu hingga hilir (end-to-end system). Yaitu pemanfaatan data dari sensor deteksi tsunami yang kemudian diproses di Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan ditransfer ke pusat krisis, supaya informasinya dapat diteruskan ke masyarakat.
Simulasi itu juga dilakukan untuk mencoba kegunaan infrastruktur bencana seperti escape building, rute-rute pelarian, rambu-rambu penyelamatan, sirine, pemantauan ketinggian permukaan laut, seismik, global positioning system (GPS) yang terhubung
dengan ruang pengendalian operasi sistem peringatan dini, pusat krisis (crisis center).
Sementara Wakil Walikota Banda Aceh Hj. Illiza Sa'aduddin Djamal mengatakan tsunami drill itu dilakukan untuk menguji alarm sistem peringatan dini tsunami (TEWS) yang berada di pinggir pantai Aceh, khususnya Kota Banda Aceh.
"Kita ingin menguji sistem peringatan dini tsunami, apa bisa berfungsi dengan baik dan juga bisa mengetahui sejauh mana pengetahuan warga dalam menghadapi bencana," sebutnya. (nwk/nwk)











































