Petra menetap di Indonesia sejak tahun 1989. Pertama kali ia singgah ke Bali kemudian selama empat tahun menetap di Bandung. Ia ke Indonesia setelah menikah dengan seorang WNI bernama Denny. Kini mereka telah resmi bercerai. "Saya menjadi WNI karena keinginan saya sendiri. Saya cinta Indonesia," ujarnya.
Selama berada di Bandung, Petra mempelajari berbagai budaya Indonesia, seperti belajar seni tari serta sanggar senam. "Saya bisa menari Jaipong," ujarnya bangga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Petra telah meninggalkan pekerjaan tersebut. Ia memilih menjadi guru yoga di Desa Muda Villas, Seminyak serta memberikan yoga secara privat.
Setelah lama menetap di Bali, Petra akhirnya tertarik dengan dunia politik di Indonesia. Ia mengenal dunia dari seorang sahabatnya, yang juga ketua DPD PDP Bali. Saat itu, PDP sedang melirik caleg dari kalangan perempuan yang sedang ingin memenuhi kouta caleg perempuan.
"Saya diajak berpolitik setahun lalu tetapi tidak saya pikirkan. Dua bulan lalu, diajak lagi dan mulai mengurus surat
dan persyaratan caleg," katanya.
"Alasan saya suka dengan PDP, karena sistem kepemimpinannya kolektif. Semua memiliki suara yang sama. Terdapat banyak caleg perempuan di Bali, yaitu dari delapan caleg empat orang adalah perempuan, serta di PDP adanya banyak agama," katanya.
Ia sangat menyadari telah terjun ke panggung politik di Indonesia yang diakuinya masih belum dikenalnya dengan baik. "Politik di Indonesia lebih banyak semaunya untuk melaksanakan sesuatu. Korupsi di Jerman ada tetapi tidak banyak karena korupsi di sana lebih susah," katanya.
(gds/djo)











































