Namun pengaruh dukungan surat kabar kepada calon presiden atau yang sering disebut endorsement terhadap pemilu Presiden masih menjadi perdebatan. Sejarah membuktikan, calon presiden yang mendapat banyak dukungan surat kabar tidak otomatis memenangkan pemilu.
Contoh yang paling jelas adalah Pemilu Presiden tahun 2004. Waktu itu capres Partai Demokrat, Senator John Kerry mengantongi dukungan surat kabar lebih banyak daripada capres Partai Republik, Presiden George W. Bush, tapi John Kerry kalah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Obama tercatat mendapat dukungan dua harian ternama, yakni the Washington Post dan the New York Times.
Sebagaimana dilaporkan wartawan detikcom di Washington DC, Endang Isnaini Saptorini, dalam Tajuk Rencana tanggal 23 Oktober, Dewan Editorial koran paling berpengaruh di Amerika ini meyakini jika terpilih, Barack Obama akan mampu menciptakan konsesus politik.
"Jika terpilih, ia [Obama] memiliki keinginan dan kemampuan untuk membangun konsensus politik yang luas. Konsensus ini penting untuk mencari solusi terhadap masalah-masalah nasional," demikian cuplikan Tajuk Rencana koran the New York Times.
Dukungan surat kabar terhadap calon presiden atau politisi sudah menjadi tradisi dalam perpolitikan Amerika Serikat. Sejumlah orang menyoal bahwa endorsement politik seperti ini bisa merongrong kredibilitas dan kemandirian mereka. Namun, mereka berpendapat, dukungan ini merupakan posisi editorial yang harus dipisahkan dari aspek penulisan berita yang tetap bertumpu pada kaidah-kaidah jurnalistik. (eis/ken)











































