Demikian benang merah pidato sambutan Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda J.E 'Fanny' Habibie pada pembukaan Konferensi PPI Sedunia di Museon, Den Haag (25/10/2008).
Menurut Fanny, konstitusi 1945 menyatakan bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. "Dan kita memulainya dari Indonesia, kemudian Asia Afrika!" kata Fanny.
Dikatakan bahwa api kemerdekaan itu berbahan bakar dari nasionalisme yang telah melalui proses pembelajaran yang luas. Belajar dari kemenangan Jepang atas Rusia di Selat Tsushima, belajar dari kebangkitan nasionalisme Cina. "Belajar dengan darah dan nyawa seperti termaktub dalam himne Gugur Bunga dan tersurat dalam sajak Kerawang-Bekasi," papar Fanny.
Bahan bakar ini memiliki sumbu panjang dari akar kebesaran Sriwijaya, Majapahit hingga Mataram. Kelahiran Perhimpunan Indonesia di Leiden, Budi Oetomo di Batavia lalu memuncak menjadi Sumpah Pemuda dan meletus menjadi proklamasi kemerdekaan melalui Revolusi 1945, lalu di Paris lahir jaringan nasionalis.
Di era globalisasi ini semakin banyak pemuda dan pelajar yang memilih hidup di luar negeri. "Melalui konferensi ini mereka dapat menyumbangkan pemikiran-pemikiran segar untuk membangkitkan lagi kejayaan Nusantara Indonesia," tegas Fanny.
Fanny mengingatkan agar konferensi ini dipersembahkan dengan ikhlas kepada rakyat Indonesia. Rakyat yang mencintai para pemuda dan pelajar sebagai anak-anak kesayangannya.
"Selamat berkonferensi. Tugas saya adalah mengantar kalian ke pintu gerbang masa depan, karena masa depan itu adalah milik kalian, bukan milik saya," demikian Fanny.
Konferensi untuk memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional, 100 Tahun Gerakan Pelajar Indonesia di luar negeri dan 80 Tahun Sumpah Pemuda itu akan berlangsung selama dua hari hingga hari ini (26/10/2008).
(es/es)











































