Dari empat hari penggalian (eskavasi) di empat lokasi, gabungan arkeolog dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Banda Aceh, Balai Arkeolog (Balar) Sumut, Museum Provinsi Sumut dan arkeolog dari Universitas Negeri Medan, menemukan sejumlah benda penting dari zaman silam. Antara lain pecahan keramik China antara abad 15 hingga abad 17 Sebelum Masehi (SM).
Selain itu, arkeolog juga menemukan tiga buah kapak genggam Sumatra (Sumatralid), seperti yang ditemukan di Bukit Kapur di kawasan Pantai Timur Sumatera.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dugaan sementara, peluru yang kita temukan berasal dari sisa peninggalan pasukan Kerajaan Aceh semasa Raja Alihuddin Riyadsyah berkuasa. Pada masa itu Kerajaan Aceh menyerang kawasan Situs Putri Hijau dibantu pasukan Turki," terang Soejana.
Sementara arkeolog dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Banda Aceh, Edi Suryana mengaku belum tahu akan dibawa kemana hasil temuan barang-barang bersejarah tersebut.
"Kita belum tahu pasti. Tim hanya melakukan eskavasi dan mendata barang-barang bersejarah yang ditemukam di situs Benteng Putri Hijau ini," ujar Suryana.
Suryana menyatakan, pembangunan Perumnas Taman Putri Deli, akan merusak situs Benteng Putri Hijau. Semua kebijakan ada di tangan pemerintah daerah, hanya saja, keberadaan situs ini sangat berarti bagi kepentingan sejarah.
(rul/rdf)










































