Kecelakaan Banyak, KNKT Minim Sumber Daya

Kecelakaan Banyak, KNKT Minim Sumber Daya

- detikNews
Kamis, 23 Okt 2008 11:41 WIB
Jakarta - Banyaknya kecelakaan transportasi di Indoensia ternyata tidak dibarengi dengan peningkatan sumber daya yang memadai dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Tidak hanya dari segi sumber daya manusia, tetapi juga sumber daya finansial.

"Melihat tantangan yang ada, minimal 100 orang staf. Kita cuma punya 18 staf ," kata Ketua KNKT Tatang Kurniadi di sela-sela diskusi bertajuk 'Peran Media Dalam Mendukung Investigasi Kecelakaan Pesawat Udara' di Hotel Redtop, Jl Pecenongan, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2008).

Untuk menambah dua hingga tiga orang staf saja, kata Tatang, sulit sekali. Belum lagi jika berbicara soal investigator yang di luar staf. Jumlah investigator yang ada sangat minim. Untuk transportasi darat, misalnya, hanya tersedia 2 orang investigator. Padahal area kerjanya sedemikian luas dengan tingkat kecelakaan sangat tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Idealnya, menurut Tatang, di tiap daerah terdapat investigator agar jika terjadi kecelakaan yang mengharuskan keterlibatan KNKT bisa segera ditangani.

Gambaran dari minimnya SDM ini juga terlihat dari kesulitan KNKT dalam melaporkan hasil investigasi kecelakaan ke International Civil Aviation Organization (ICAO). Mengingat bahasa Indonesia bukanlah bahasa resmi PBB, laporan harus terlebih dulu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. KNKT tidak punya SDM untuk itu sehingga harus meminta bantuan dari Australia untuk menerjemahkan sesuai standar ICAO.

"Alangkah bagus kalau Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa resmi IACO. Ada (kecelakaan) senggolan sedikit saja bisa kita laporkan," ujarnya.

Jumlah SDM yang minim ini diperparah dengan minimya anggaran. Untuk tahun 2007, anggaran KNKT sebesar Rp 9 miliar. Tahun ini naik menjadi Rp 18 miliar, dengan tambahan Rp 2,5 miliar. Menurut Tatang, anggaran ini tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan KNKT yang tinggi.

"Kalau dipakai benar, anggaran itu tidak mencukupi," ujarnya.

Misalnya, honor untuk investigator terpaksa tidak memenuhi standar karena kurangnya anggaran. Publikasi hasil investigasi kecelakaan juga tidak bisa dilakukan melalui media massa karena kurangnya anggaran.

"Publikasi kita hanya lewat website," terangnya.

Meski dengan segala keterbatasan, Tatang mengatakan kinerja KNKT selama ini sudah cukup memuaskan. Hal ini bahkan sudah diakui oleh dunia internasional.

"Wall Street Journal telah mengakui laporan kita ke ICAO bagus. Kalau saja itu bukan dari Indonesia, mungkin mereka sudah bilang ini bisa dijadikan contoh," ujarnya setengah bercanda. (sho/nrl)


Berita Terkait