Meski demikian, ternyata Iran memiliki "jago" dalam pemilihan presiden AS. Menurut juru bicara parlemen Iran Ali Larijani, Teheran akan lebih memilih kandidat presiden dari Partai Demokrat Barack Obama.
"Kami cenderung kepada Barack Obama karena tampaknya ia lebih fleksibel dan
rasional, walaupun kami juga tahu bahwa kemungkinan besar kebijakan AS akan sama saja," jelasnya seperi yang dilansir AFP, Kamis (23/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Larijani di lain pihak sebagai salah satu politisi konservatif di negaranya tidak menganggap serius rencana AS menyerang Iran. Menurutnya, saat ini AS tengah disibukkan oleh krisis finansial global sehingga tak mungkin melancarkan serangan terhadap negeri para mullah tersebut.
"Tadinya kemungkinan (serangan) itu ada, tetapi saya sekarang 100% yakin bahwa AS tidak akan memulai perang baru dengan Iran. Krisis ekonomi telah menelan biaya sebesar US$ 1.400 miliar dan pemerintah AS akan berfokus menyelesaikan masalah tersebut dan bukannya memulai sebuah perang," jelasnya.
AS memutus hubungan diplomatiknya dengan Iran pada tahun 1980 menyusul pecahnya revolusi Islam yang mengantarkan negeri tersebut kepada bentuknya sekarang, Republik Islam Iran. Presiden George W. Bush sendiri dalam beberapa kesempatan menuding Iran sebagai bagian dari "poros kejahatan".
Ketegangan antara kedua negara semakin menuncak seiring tuduhan AS dan negara-negara Barat lainnya bahwa Iran sedang berusaha mengembangkan senjata nuklir, suatu hal yang tak henti-hentinya dibantah oleh Iran. (alf/ndr)











































