McCain: Jangan Senang Dulu Obama!

McCain: Jangan Senang Dulu Obama!

- detikNews
Kamis, 23 Okt 2008 05:20 WIB
McCain: Jangan Senang Dulu Obama!
Jakarta - Kandidat calon presiden (capres) dari partai Republik John McCain mengingatkan rivalnya, Barack Obama agar jangan terlampau senang dulu. Dia mewanti-wanti agar Obama tidak cepat berpuas diri meski memimpin di sejumlah polling dan survei.

Tidak lupa McCain menyerang kebijakan Obama soal pendistribusian kekayaan yang dinilai capres berusia 72 tahun itu, sebagai kebijakan "sosialis". Berbicara di depan pendukungnya di Gofftown, New Hampshire, McCain mengingatkan bahwa dirinya "belum habis".

"Lawan saya tampaknya sangat percaya diri sekarang," ungkap McCain seperti yang dilansir AFP, Kamis (23/10/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebentar lagi ia akan mengudara secara nasional. Ia (Obama) akan muncul lagi di stadion besar dengan penonton yang membludak, bertingkah seperti pemilihan telah usai," sindir McCain.

McCain juga mengingatkan bahwa sering kali polling dan ramalan ternyata terbukti salah. "Tidak ada yang lebih menyenangkan, saya lebih baik menjadi underdog dalam kampanye di negara bagian New Hampshire ini," ujar McCain pada pendukungnya.

McCain menyerang Obama sebagai "sosialis pembunuh lapangan kerja". Dan lagi-lagi nama Joe si Tukang Ledeng disebut-sebut oleh McCain. Joe Wurzelbacher
atau yang lebih dikenal sebagai Joe si Tukang Ledeng adalah seorang warga kelas menengah AS yang mempertanyakan kebijakan pendistribusian kekayaan ala Obama.

"Joe tidak menyukai ide (Obama) tersebut dan demikian halnya dengan warga
Amerika lain yang percaya bahwa hakikatnya pendapatan ya untuk diri sendiri," ungkap McCain.

Menurut McCain, pendistribusian kekayaan secara merata bukanlah hal yang
dibutuhkan Amerika.

"Pada akhirnya, sebelum permerintah mendistribusikan kekayaan, ia harus terlebih dahulu mengambil alih (kekayaan) dari yang berpunya. Itu bukanlah cara berpikir yang benar. Itu hal terakhir yang dibutuhkan oleh Amerika saat ini," ungkap veteran Perang Vietnam itu. (alf/ndr)


Berita Terkait