"Khusus dalam alutsista, KSAL TNI menyatakan Indonesia akan mencari yang paling pas," kata Counsellor Penerangan KBRI Moskow M Aji Surya dalam siaran pers, Selasa (22/10/2008).
Pembicaraan yang digelar ini memang sudah direncanakan cukup lama dan berlangsung dalam suasana yang kondusif. Dalam diskusi dibahas pula tentang konstelasi kekuatan internasional di berbagai tempat serta proyeksi dan langkah-langkah kedepan yang mungkin diambil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam hal hubungan bilateral, keharmonisan antara kedua bangsa yang pernah terjalin pada tahun 1960-an pun sepakat perlu dirajut kembali.
"Pihak Rusia siap membantu dan mempertimbangkan aneka kebutuhan Indonesia dalam jangka panjang," imbuh Aji.
Seperti disampaikan Aji, KSAL Edhy Purdijatno menegaskan bahwa TNI AL akan menjalin hubungan yang baik dengan semua pihak, termasuk dengan Rusia. Untuk itu, KSAL Rusia diundang untuk datang ke Indonesia dan mengusulkan suatu kerjasama dalam bidang pendidikan dan latihan serta aneka seminar untuk mengantisipasi konstelasi yang mungkin semakin kompleks di kawasan Asia Pasifik.
"Dalam hal alutsista, diakui bahwa setiap negara produsen memiliki suatu keunggulan teknologi yang berbeda antara satu dan lainnya. Dan Kapal selam Rusia misalnya memiliki keunggulan menembakkan rudal dari bawah laut," urai Aji.
Usai pertemuan, KSAL TNI melanjutkan kunjungan ke Rosoboronexport (ROE), BUMN Rusia yang memiliki hak menjual senjata dan turunannya ke luar negeri.
Sebagaimana diketahui, berdasarkan Dekrit yang dikeluarkan Presiden Vladimir Putin tahun 2007 bahwa aneka pengembangan senjata dan penjualannya ke luar negeri hanya dapat dilakukan via satu pintu, yakni Rosoboronexport. Segala sesuatu yang ada kaitannya dengan alutsista yang memiliki bobot ekonomi tinggi dan strategi, harus lolos dari lembaga ini. (alf/ndr)










































