"Dari data dan analisa disimpulkan, mereka diindikasikan sebagai murid Dr Azahari. Cara mereka membuat bom ada kesamaan dengan kelompok Dr Azahari. Apakah ini mereka murid-muridnya, yang jelas tim menyimpulkan demikian," kata Wakabid Humas Mabes Polri Brigjen Pol Sulistyo Ishak di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Rabu (22/10/2008).
Menurut Sulistyo, kelompok ini merupakan kolaborasi dari kelompok yang lebih besar, meliputi kelompok Jundullah di Sulawesi, kelompok Jamaah Islamiyah di Ambon, Poso dan Jawa, kelompok Kompak di Kayamaya Poso, Ambon, dan Jakarta, kelompok Fakta di Palembang, kelompok NII di Jakarta, dan kelompok Jamaah Islamiyah di Singapura dengan tokohnya Hasan alias Taslim yang merupakan lulusan kamp Al Qaida di Afghanistan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelompok ini, kata Sulistyo, lebih canggih dibanding para pelaku terorisme sebelumnya. Indikasinya, printed circuit board (PCB) yang mereka buat sudah lebih sempurna dan lebih rapi dibanding PCB yang pernah disita. Kemajuan signifikan dalam PCB ini mengakibatkan pembuatan switching bomb lebih cepat dan lebih banyak.
"Penemuan serbuk kimia patut diwaspadai. Kemungkinan kelompok ini sedang melakukan percobaan penggunaan bahan kimia sebagai alat teror," terang Sulistyo.
(sho/nrl)











































