Bagaimana menghindari penyakit jiwa tersebut meski kalah dalam pemilu? Menurut dokter ahli jiwa dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Teddy Hidayat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para caleg agar tidak gila.
"Yang paling baik adalah mendekatkan diri pada agama. Tapi sebenarnya kita juga harus bisa menerima kekalahan dan berbesar hati," ujar Teddy kepada detikcom, Selasa (21/10/2008).
Teddy menceritakan, beberapa waktu lalu salah satu calon Bupati Ponorogo, Yuli Nursanto gila lantaran kalah dalam pemilihan Bupati Ponorogo, Jawa Timur. Hal ini disebabkan karena Yuli telah mengeluarkan dana hingga Rp 3 miliar untuk biaya kampanyenya. Celakanya, tak sedikit dari uang tersebut adalah dari hasil pinjaman.
Yang terbaru, mantan anggota DPRD Subang, Nano Hermanto mencoba bunuh diri dengan memanjat menara setinggi hampir seratus meter karena stres dan kecewa terkait pengusutan dugaan kasus korupsi Bupati Subang yang mengorbankan dirinya.
"Jadi semua harus terencana dengan baik. Jangan sampai habis-habisan utang sana utang sini dengan keyakinan akan terpilih," kata Kepala Bagian Psikiatri RSHS Bandung ini.
Menurutnya, harusnya ada pertimbangan bahwa para caleg tersebut masih punya tanggungan untuk membiayai hidup keluarganya. Sehingga mereka akan berfikir seratus kali untuk mengeluarkan biaya kampanye yang tidak sedikit tersebut. "Harusnya ada sisanya. Paling tidak untuk ngasih makan anak istri," ujarnya.
Namun demikian, lanjut Teddy, setiap manusia memang mempunyai perbedaan dalam menyikapi masalah dalam hidupnya. Sehingga dampak yang ditimbulkan akibat masalah yang dihadapinya pun bisa berbeda juga. Tingkat kerumitan masalah juga menjadi faktor pemicu masalah kejiwaan seseorang.
"Manusia akan mengalami gangguan atau tidak tergantung masalah yang dihadapi, berat atau ringan," pungkasnya. (anw/iy)











































