Dua orang anggota Parlemen Belanda yang bersedia menemui para janda korban pembantaian Rawagede itu adalah Harry van Bommel dari Partai Sosialis dan Joel Voordewind dari Partai Uni Kristen (ChristenUnie). Partai Uni Kristen adalah salah satu partai yang ikut dalam koalisi di pemerintah Belanda saat in, sedangkan Partai Sosialis adalah partai oposisi terbesar di parlemen Belanda.
"Nanti siang dua anggota Parlemen Belanda itu bersedia bertemu dengan para janda korban pembantaian Rawagede," kata Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda, Batara Hutagalung, kepada detikcom melalui telepon, Minggu (19/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Batara, hal tersebut tidak terlepas dari kebijakan politik Belanda. Hingga saat ini, Belanda secara de jure tidak pernah mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sebab hal itu sangat dilematis. Jika mengakui kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, berarti Belanda sama saja mengakui agresi pada 1947 dan 1948 merupakan serangan ke sebuah negara berdaulat.
"Selama ini mereka menyebut agresi 1947 dan 1948 ke Indonesia sebagai aksi polisional 1 dan 2 karena ini urusan dalam negeri mereka. Mereka melakukan agresi dengan alasan membasmi perampok, perusuh, dan pengacau keamanan," ujar Batara.
Dengan demikian, sambung Batara, kesediaan dua anggota Parlemen Belanda tersebut untuk bertemu dengan para janda pembantaian Rawagede patus disambut baik. Ini merupakan peristiwa bersejarah.
"Saya sudah bolak-balik melobi parlemen Belanda namun selalu gagal. Jadi ini adalah untuk pertamakalinya anggota Parlemen Belanda mau bertemu dengan korban pembantaian Rawagede," tukas Batara.
Harry van Bommel dan Joel Voordewind adalah dua dari 12 anggota delegasi Parlemen Belanda yang datang ke Indonesia. Agenda kunjungan mereka "memantau" kondisi HAM di Indonesia. Mereka dijadwalkan akan bertemu dengan berbagai kalangan, antara lain komunitas Maluku dan janda almarhum Munir, Suciwati.
Pembantaian Rawagede adalah peristiwa pembantaian penduduk Desa Rawagede, di antara Karawang dan Bekasi oleh tentara Belanda pada 9 Desember 1947. Sebanyak 431 penduduk menjadi korban pembantaian ini.
Pada tanggal 4 Oktober 1948, tentara Belanda melancarkan pembersihan di Rawagede, dan kali ini 35 orang penduduk dibunuh. Peristiwa inilah yang menjadi inspirasi dari sajak terkenal Chairil Anwar berjudul "Karawang Bekasi".
(djo/djo)










































