Rapimnas Partai Golkar diduga akan memanas. Isu yang beredar sejumlah DPD akan menanyakan perihal pernyataan JK yang mengisyaratkan akan berduet kembali dengan SBY pada Pilpres 2009.
Bagi beberapa kader, pernyataan JK tersebut dinilai telah meremehkan Partai Golkar. Bagaimana bisa partai sebesar Golkar yang mematok angka tinggi untuk syarat dukungan capres itu hanya menargetkan posisi cawapres dan menjadi 'buntut' Partai Demokrat?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum lagi sebelumnya pada 8 Oktober 2008 lalu sesepuh yang juga salah satu pendiri Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), salah satu organisasi pendiri Golkar pada tahun 1964, Suhardiman, menyatakan mendukung pencapresan Sri Sultan Hamengku Bowono X. Beberapa kader menilai, apa yang dilakukuan Suhardiman dengan SOKSI tersebut adalah buah kekecewaan atas pernyataan JK tersebut.
Kekecewaan yang sudah membulat itu juga yang menyulut isu sejumlah DPD akan mendesak diumumkannya nama capres Golkar pada Rapimnas kali ini. Bahkan Ketua DPD I Gorontalo Fadel Muhammad memastikan akan adanya desakan tersebut. "Akan ada. Pembicaraan capres dan cawapres bukan sesuatu hal yang tabu," tegas Fadel.
Pengumuman capres yang lebih dini dinilai justru akan menguntungkan Partai Golkar sendiri. Selain masyarakat bisa lebih awal menilai capres tersebut, hal ini juga akan menguatkan partai di akar rumput.
"Misalnya saja 'kepala suku' di suatu daerah diumumkan menjadi capres Golkar, itu akan menguatkan konsolidasi dengan konstituen di daerah untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya pada Pemilu Legislatif," tutur Ketua Departemen Nakertrans DPP Partai Golkar Zainal Bintang.
Jadi, Rapimnas Golkar kali ini diperkirakan akan menjadi ajang 'interupsi' atas kebijakan-kebijakan sang Ketum Jusuf Kalla selama ini. Atau dengan meminjam istilah Yuddy Chrisnandi ibarat tungku yang siap meledak. Kita tunggu saja. (lrn/nrl)











































