Namun banyak pula yang pesimistis. Mereka tak mau berharap terlalu tinggi. Mereka takut kecewa mengingat sejarah rasial di AS.
"Kita punya banyak alasan untuk pesimistis mengingat sejarah kita dan pengalaman di negeri ini," kata Gil Robertson, pendukung Obama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada diungkapkan Todd Shaw, profesor ilmu politik di Universitas South Carolina. "Ada sinisme dan optimisme di kalangan warga Amerika-Afrika," kata Shaw.
"Ras masih tetap menjadi situasi berbahaya di politik Amerika," tegasnya.
Publik AS mengenal apa yang disebut sebagai fenomena "Efek Bradley" yang diambil dari nama Tom Bradley. Seorang politikus AS berkulit hitam yang kalah tipis dalam pemilihan gubernur California tahun 1982. Padahal sebelumnya dia selalu unggul dalam berbagai polling.
Kekalahan Bradley mengagetkan para pengamat AS. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa saat disurvei, para pemilih kulit putih tidak jujur tentang pilihan mereka sebenarnya.
"Sering sekali masyarakat tidak jujur soal ras, preferensi seksual. Mereka cuma mengatakan hal yang benar secara politis," kata Brenda Girton-Mitchell, wanita berusia 60 tahun pendukung Obama.
"Saya yakin ada sebagian orang yang bilang di depan umum, "Saya bisa memilih orang kulit hitam" tapi kemudian berubah pikiran ketika pergi ke tempat pemungutan suara," imbuhnya.
Seorang pendukung Obama lainnya, Valerie Freeman, bahkan mengkhawatirkan keselamatan Obama jika dia menang. "Mengerikan jika dia menang. Akan ada orang-orang yang tak bisa menerimanya," kata wanita berkulit hitam itu.
(ita/nrl)










































