FKB berpendapat forum lobi ini bukan saatnya lagi untuk berargumentasi. Yang diharapkan dari forum ini adalah kemauan FPG dan FPDIP untuk menurunkan patokan angkanya dari 30 persen dengan kompensasi partai-partai menengah juga menaikkannya di kisaran 20 persen.
"Tadi ada sedikit ketegangan antara Pak Hardi dengan Gus Choi. Ketegangan itu terjadi karena Pak Hardi dinilai terlalu berbelit-belit dalam berargumen. Padahal forumnya sudah bukan lagi untuk berargumen karena semua sudah saling memahami usulan masing-masing fraksi di daftar inventarisasi masalah (DIM). Sekarang saatnya untuk menyamakan persepsi di angka-angka itu," kata sumber detikcom yang merupakan salah pimpinan fraksi di Hotel Santika, Jl KS Tubun, Jakarta, Rabu (15/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya. Itu biasa dalam demokrasi. Nggak masalah," ujarnya.
Karena FPG dan FPDIP masih kekeuh di angka tinggi, Gus Choi merasa lobi itu tidak ada artinya sehingga dia meninggalkan forum. Dia yakin forum itu tidak akan menghasilkan titik temu. Karena itu dia menilai langkah voting lebih tepat diambil jika Golkar dan PDIP tetap ngotot dengan angka usulannya. Gus Choi merasa FPG dan FPDIP sengaja mempermainkan fraksi-fraksi yang lain.
"Kalau mereka hanya turun 0,1 persen, itu namanya main-main. Kita dipermainkan Golkar dan PDIP. Kita sudah mau naik turun dari 2,5 persen ke 30 persen, lalu karena 30 persen terlalu besar turun ke 15 persen. Ini Golkar dan PDIP dari lobi pertama sampai sekarang nggak ada perubahan. Perubahannya 0,1 persen. Ini apa-apaan?" kata Gus Choi dengan nada kesal.
Gus Choi menilai forum lobi tidak akan kondusif untuk mencapai kesepakatan di kisaran angka 20 persen sehingga ia merasa tidak perlu lagi mengikutinya lebih jauh. Namun meski sudah ditinggalkan Gus Choi, FKB tetap mengirim anggota pansus lainnya, yakni Helmi Faishal Zaini, untuk mewakili FKB mengikuti lobi setelah skors.
Gus Choi menyayangkan arogansi FPG dan FPDIP yang merasa akan menjadi pemenang pemilu sehingga mengusulkan angka tinggi sebagai syarat pengajuan capres. Begitu juga dengan PKS yang mengusulkan 25 persen.
"Saya heran itu partai-partai yang merasa sok besar. Padahal nanti belum tentu semua loh. Kenapa tidak menggunakan angka yang bisa mengakomodir semuanya? Kan lebih enak," ujarnya sambil berlalu dari Hotel Santika. (sho/mok)











































