Aksi petani tebu Desa Tirtonirmolo, Bantul itu dilakukan oleh perangkat desa dan anggota kelompok tani yang tanahnya disewa pabrik untuk ditanami tebu pada musim tanam 2007. Namun hingga selesai musim giling 2008 pada bulan Agustus, petani tidak menerima sepeser uang hasil panenan.
Aksi itu dimulai balai Desa Tirtonirmolo menuju PG Madukismo yang berjarak sekitar 300 meter. Tanpa poster dan spanduk, mereka berjalan kaki mendatangi kantor direktur PG Madukismo. Namun direktur Subandriyo, pimpinan lainnya tidak berada di kantor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mana Bandriyo dan Irwan. Mereka harus bertanggung jawab pada petani. Uang hasil panenan kami tak dibayarkan. Ini sama saja menipu," teriak Mardiono salah seorang petani warga Dusun Padokan, Tirtonirmolo.
Karena tidak percaya omongan satpam dan staf pabrik, massa kemudian mendatangi rumah direktur PG Madukismo Subandriyo di kompleks Madubaru nomor 2 yang berjarak 400 meter dari kantor. Namun saat tiba di rumah dinas, seorang satpam bernama Lukas sudah menghadang dan mengatakan direktur tidak ada. "Pak Bandriyo baru ada tugas ke Jakarta," kata Lukas.
Massa yang emosi sempat memaki-maki dan menantang agar tidak menghalanginya. Beberapa anggota Polsek Kasihan Bantul juga berjaga-jaga di dekat rumah dinas. Massa kemudian nekat masuk ke dalam rumah mencari direktur. Semua ruangan dimasuki. Pintu dan jendela diketuk-ketuk dengan keras. "Mana Bandriyo. Dia itu
pembohong, merampas hak petani," teriak salah seorang.
Setelah mencari ke dalam rumah tidak ketemu, massa kemudian meminta salah seorang staf pabrik untuk memberikan nomor telepon genggamnya untuk dihubungi. Namun stafnya tidak berani memberikan nomor HP milik Bandriyo. Massa pun kembali mencemoohnya.
"Tidak mungkin tidak bawa GP sehingga tidak bisa dihubungi. Pasti tidak berani ngasih nomor ke kami," kata Margiono.
Sukamdi salah seorang perangkat Desa Tirtonirmolo mengatakan sebanyak 25 kelompok tani dengan luas tanah sekitar 35 hektar yang disewa Madukismo dengan sistem kerjasama untuk ditanami tebu pada tahun 2007. Namun pada massa panen bulan April 2008, petani tidak memperoleh hasil.
"Hingga akhir musim giling bulan Agustus, kami tidak terima sepeserpun. Kami sudah menanyakan terus tapi tak pernah ada jawaban," kata Sukamdi.
Menurut dia, beberapa kali pihaknya menemui Direktur PG Madukismo namun selalu menghindar dengan berbagai alasan. Dari hasil pertemuan dengan GM Madukismo sudah ada kesepakatan uang segera diberikan, namun oleh direktur dan bagian keuangan ditahan tidak dikeluarkan tanpa ada alasan yang jelas.
Pihaknya juga menanyakan kualitas hasil panenan atau rendeman tebu tapi tidak pernah ada jawaban memuaskan. Padahal kualitas tebu yang jelek denga rendeman di bawah 9 saja, oleh pabrik tetap bisa dibuat kristal gula.
"Ini aneh, mereka tetap tak mau memberikannya tanpa ada alasan. Padahal lahan yang ditanami tebu juga di sekitar desa Tirtonirmolo yang juga di dekat pabrik," kata Sukamdi yang mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar lagi. (bgs/djo)











































