Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan, ada banyak kriteria menentukan cawapres antara lain tingkat popularitas, kekuatan partai, kecocokan pribadi dan dana kampanye.
"Jadi kalau hanya dua nama itu yang disebut, saya kira Probowo lebih potensial mendampingi Mega ketimbang Fadel," kata Qodari kepada detikcom, Rabu (15/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kekuatan kaki di parlemen keduanya belum jelas, kecocokan pribadi saya tidak tahu dan dana kampanye Prabowo jelas lebih unggul dibanding Fadel," ujarnya.
Namun demikian, Qodari menambahkan politisi PDIP Taufiq Kiemas pernah menyebutkan nama-nama cawapres Mega yakni Sultan HB X, Wiranto, Akbar Tandjung, Hidayat Nurwahid, dan Prabowo. Sedangkan nama Fadel saat itu tidak disebut.
Dikatakan dia, Sultan HB X tingkat popularitasnya paling tinggi, kendaraan politik kecil sebab dukungannya untuk maju menjadi cawapres belum jelas, dan dana kampanye kemungkinan kecil.
Wiranto tingkat popularitasnya sedang, partai politik Hanura yang dipimpinnya di posisi sedang dan dana kampanye sedang.
Akbar Tandjung, popularitasnya sedang, partai politik kecil dan dana kampanye sedang. Sementara itu, Hidayat Nurwahid, popularitasnya bagus, partainya bagus dan punya kekuatan di parlemen, mesin politiknya juga berjalan. Dana kampanyenya terbatas.
"Jadi semua tergantung pada beberapa kriteria. Skornya ya biar masyarakat yang menilai," ujar Qodari.
Pada Selasa kemarin, salah seorang anggota Badan Pemenangan Pemilu PDIP Budi Mulyawan tidak menampik masuknya nama Prabowo dan Fadel dalam daftar kandidat cawapres Mega. Ia menyatakan, kedua nama itu kini memang sedang ramai dibicarakan di kalangan internal PDIP.
(aan/nrl)











































