Perkelahian ini bermula ketika korban mendapati rumahnya kemalingan. Setelah itu, diapun membangunkan salah satu anaknya, Robi (30) yang tengah tertidur.
"Pada saat itu, di rumah selain ada Robi juga ada istrinya, Tati dan anaknya, Ita, " kata kerabat korban, Markowi (35) di lokasi kepada wartawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Layaknya jawara sejati, sarung warna merah pun masih bertengger di pundaknya. Tidak berapa lama, sang pencuri, yang tengah mengendarai sepeda gunung dengan TV 20 inchi hasil curian di atas boncengan, terkejar.
"TV dibalut dengan kain sarung warna hijau,"tambah Markowi.
Lantas, sang jawara pun menghadang dengan mengacungkan senjatanya berupa stik golf. Mendapati tantangan ini, pencuri yang belum diketahui identitasnya ini menerima tawaran adu kekuatan.
Duel maut pun tidak dapat dielakkan di gelanggang lapangan terbuka berupa tanah kosong.
Adu kanuragan antara jawara yang bergabung dalam ormas betawi dan maling ini tidak berlangsung lama. Dibawah kabut fajar dan sinar pagi yang masih temaram menambah suasana semakin dramatis.
Dalam hitungan beberapa jurus, korban berhasil di sabet menggunakan golok di leher, punggung, dada dan kedua paha.
"Stik golfnya patah. Parah banget kondisi Mandor," ujar nya lagi seraya menyebut nama panggilan korban yaitu Mandor.
Mendapat luka yang menyayat ini, korban pun meraung kesakitan. Sehingga anaknya serta piluhan warga mendengar. Robi pun segera menuju sumber suara dan mendapati bapaknya telah tergeletak meregang ajal. Adapun maling mengambil langkah seribu ke
arah kebun kosong.
"Di pangkuan anaknya, Mandor meninggal," tuturnya sedih.
Meski demikian, wargapun masih berusaha menyelamatkan jiwanya dengan mengirim ke RS Fatmawati. Sayang, nyawanya benar-benar tidak tertolong.
Kini, jenazah korban telah dikubur di pemakaman umum seusai salat dzuhur. Suasana duka menggelayut di rumah korban yang dinaungi pohon Rambutan rindang. (asp/nwk)











































