Hal itu tampak dalam survei Lembaga Survei Nasional (LSN) yang diadakan tanggal 20-27 September 2008. Sebanyak 400 responden berusia minimal 17 tahun dari 15 kota besar di Indonesia, dipilih secara acak sistematis dari buku telepon terbaru.
Tingkat kesalahan (sample error) survei ini sekitar 4,9 persen dengan taraf kepercayaan 95 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otomatis, SBY menduduki peringkat pertama dengan elektibilitas tertinggi. Padahal, imbuh dia, survei LSN bulan Mei 2008 tingkat elektibilitas SBY terpuruk di angka 16,4 persen.
Alasannya, SBY dinilai serius memberantas korupsi, melalui berbagai gebrakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Kedua, kebijakan pemberian BLT (Bantuan Langsung Tunai) tampaknya cukup menghibur masyarakat miskin," ujar Umar.
Sementara popularitas Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto meroket menembus 3 besar. Tingkat elektabilitas mantan Danjen Kopassus ini bertengger di peringkat 3, yang akan dipilih 14,2 persen responden jika pilpres dilakukan hari ini.
Gara-garanya, iklan Prabowo dinilai cukup memikat hati. Sebanyak 79,9 persen publik mengaku suka terhadap iklan Prabowo yang mengandung pesan-pesan simpatik mewakili masyarakat petani, nelayan, dan pedagang pasar tradisional.
"Mayoritas mereka menilai Prabowo sebagai sosok tegas dan berwibawa sehingga pantas untuk memimpin republik ini," jelas dia.
Hasil survei selengkapnya untuk tingkat elektabilitas: SBY (30 persen), Megawati Soekarnoputri (15,3 persen), Prabowo Subianto (14,2 persen), Hidayat Nurwahid (4,8 persen), Sri Sultan HB X dan Yusril Ihza Mahendra (4,3 persen), Amien Rais (2 persen), Wiranto (1,5 persen), Gus Dur (1,3 persen), Jusuf Kalla, Sutiyoso, dan Soetrisno Bachir (0,8 persen), Rizal Malarangeng (0,5 persen), Akbar Tandjung (0,3 persen).
Sisanya tokoh lainnya (0,3 persen) dan masih belum memutuskan atau rahasia (18,8 persen).
Sementara responden yang diminta menyebutkan 3 nama paling pantas menjadi capres, SBY masih paling banyak disebut (55,4 persen), disusul Prabowo (47,7 persen), Megawati (32,8 persen), Wiranto (28,7 persen) dan Sri Sultan HB X (26,4 persen).
(nwk/iy)











































