Jakarta selain disebabkan rendahnya penyerapan anggaran ternyata juga ditengarai karena partai-partai yang dahulu mengsung pasangan Foke-Prijanto tidak lagi mendukung program-program yang dicanangkan.
Menurut Nurdin Slamet, anggota FPKS DPRD DKI, koalisi yang terjadi saat Pilkada tahun lalu, kini hanya berupa koalisi beli putus. "Setelah Foke menjadi Gubernur, mereka tidak lagi mendukungnya", ujar Nurdin sat ditemui di kantornya, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (7/10/2008).
Ketika dimintai konfirmasi atas hal ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto enggan menjawab. "Kata siapa? Itu kan kata Pak Slamet." ujarnya singkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pensiunan mayor jenderal ini juga mengajak semua pihak untuk menelaah masalah ini secara lebih jeli.
"Kalau melihat besaran dan kurun waktunya kok impossible. Tapi saya beri gambaran. Contoh, Dikdas (Dinas Pendidikan Dasar) punya program sekian miliar yang belum terserap. Tapi sesungguhnya sekian miliar yang belum terserap itu untuk sekian program. Dan proyeknya itu cuma menata genteng dan mengecat. Jadi rehab kecil. BKT juga insyaAllah."
Prijanto juga mengatakan bahwa proyek-proyek yang belum menyerap anggaran adalah proyek yang tidak memakan waktu lama.
"Pekerjaan-pekerjaan itu tidak perlu makan waktu bulan-bulanan." katanya.
Prijanto yang mengenakan batik Korpri itu juga mengajak agar masyarkat DKI tidak khawatir terhadap rendahnya penyerapan anggaran.
"Kekhawatiran mengenai besarnya anggaran yang belum terserap itu menjadi tidak logis," pungkasnya.
(alf/rdf)











































