"Habis gimana lagi. Kita bangun lagi," kata Darwin (45) salah satu warga di lokasi bekas kebakaran, kolong tol Pluit, Jakarta Utara, Selasa (7/10/2008).
Akibat kebakaran itu, ruas jalan tol menuju bandara sepanjang 25 meter rusak parah. Tiang beton mengelupas dan menghitam. Satu tiang pancang papan iklan sampai melengkung akibat panasnya api.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diatas tanah milik CMNP tersebut, kondisinya makin tidak terurus. Tumpukan sampah bertaut dengan gubug pemulung. Namun, meski hanya gubug, televisi ataupun kulkas telah terlihat.
"Ini sejak empat tahun lalu tambah banyak. Bolak-balik digusur tapi tetap balik karena mendapat perumahan layak makin sulit," imbuh Darwin sambil mencontohkan kesulitan yang dialami adalah persoalan adminstrasi.
"Warga disini dianggap liar. Nggak dapat KTP, nggak dapat gakin, dan lain-lain," jelasnya.
Akibatnya, warga di kolong tol kerapkali digusur. Terakhir digusur satu tahun lalu. Namun, warga kembali menempati karena di lokasi penggusuran dibiarkan melompong. Tidak ada pagar ataupun ruang publik yang dijanjikan akan dibangun.
"Katanya mau dibangun tempat olahraga atau apalah. Nyatanya sampai sekarang tidak ada apa-apa," tutur Darwin.
Saat dikornfirmasi, Walikota Jakarta Utara Effendi Anas memberikan jawaban
mengambang. Pihaknya hanya menjelaskan bahwa rencana tersebut masih menunggu dari pihak Jasa Marga dan CMNP sebagai pemilik dan pengelola jalan tol.
"Kita tidak bisa jalan sendiri. Perlu koordinasi," kelit Effendi Anas saat sidak pendatang baru kemarin.
Bila demikian, tidak adanya keseriusan mentertibkan kolong tol hanya pemanis bibir saja. Seperti halnyaย penggusuran Taman BMW yang merugikan 4.000 jiwa dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda pembangunan taman ataupun stadion kelas internasional seperti yang dijanjikan.
(Ari/rdf)











































