"Berat badannya mencapai 120 kg selama hamil ini. Sedangkan panjangnya mencapai 2 meter," ujar Staff Ahli Pendidikan dan Acara Gelanggang Samudera Ancol, Roni Rahardjo ketika dijumpai detikcom di Ancol, Jakarta Pusat, Sabtu (4/10/2008).
Perlu diketahui, lumba-lumba ini bukanlah ikan, namun merupakan hewan mamalia. Hewan ini berkembang biak dan menyusui serta bernafas dengan paru-paru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usia Lili ini sudah mencapai 17 tahun. "Ini kehamilan yang istimewa karena ini merupakan kehamilan yang pertama," ujar Roni.
Penentuan kehamilan seekor lumba-lumba ditentukan oleh bintik hitam yang ada di dadanya. Semakin banyak bintiknya, semakin tua umur hewan tersebut.
Agar perkembangan janinnya tumbuh secara baik, Lili pun mendapat perawatan khusus. Setiap hari, Lili diberi makan empat kali, pagi, siang, sore dan malam.
Pakannya pun harus yang segar. Batas maksimal penyimpanan pakannya ini hingga tiga hari dan disimpan di cool storage.
"Makanannya ikan kembung dan ikan layang. Sebanyak 7 kg sehari," ujar Roni.
Setiap hari Lili dan teman-temannya diberi vitamin, obat-obatan dn pemeriksaan dari dokter hewan. Namun, Lili kali ini mendapatkan tambahan vitamin selain vit. B1, B12 dan Provital, Lili juga mendapatkan vit. Folas dan Osovit.
"Ini untuk merangsang pertumbuhan janin, tulang dan gigi selama masa kehamilan," ujar Fahmi, staff yang khusus diperbantukan untuk memberi vitamin bagi lumba-lumba.
Selain itu juga, Lili diambil sampel darahnya setiap dua bulan sekali untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Selama mengandung, hewan pintar ini tidak boleh stress dan banyak bergerak. Ya, layaknya wanita sedang hamil saja.
"Kalau melompat bisa saja, selama lompatan itu alami. Bukan karena atas dasar perintah trainer," ujar Dimas, trainer lumba-lumba.
Hmm...kapannya Lili melahirkan? Tunggu saja bulan Februari atau Maret Tahun depan.
Lumba-lumba Terapi
Hewan satu ini, selain bersahabat, juga bisa dijadikan sebagai media terapi. Namun, terapi ini khusus untuk anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental atau bahasa kedokteran disebut autis.
"Setiap Senin hingga Jumat kami buka untuk terapi," ujar Roni.
Dengan memanfaatkan gelombang sonar yang dikeluarkan oleh suara jeritan lumba-lumba dapat membantu si anak dalam berkomunikasi. Lumba-lumba untuk terapi ini lebih jinak dibandingkan dengan lumba-lumba untuk pentas.
"Bagi pasien terapi pemula atau baru, mereka akan ketakutan," ujar trainer.
Namun, apabila terapinya lebih sering, pasien pun akan terbiasa. Tiga hingga empat kali terapi, pasien akan mulai beradaptasi.
"Minimal sepuluh kali terapi akan terasa efeknya," ujar trainer.
Terapi ini sendiri dilakukan dengan membawa si pasien kedalam air. Selain itu, mereka akan berpelukan dengan lumba-lumba.
"Dan ciuman dari lumba-lumba akan membantu pasien dalam berinteraksi," pungkasnya.
(mei/ndr)











































