Kejadian itu berawal saat Usman dan 4 temannya, warga Desa Mojowates Rejo, sedang bersantai di kawasan pinggiran desa, Rabu 1 Oktober petang. Tak disangka, belasan pemuda Desa Pandan Krajan, Kecamatan Kemlagi, datang dan memukuli kelima pemuda itu.
Karena tak seimbang, 5 pemuda Desa Mojowates Rejo, berupaya lari, termasuk Usman. Namun Usman akhirnya tersungkur karena disabet dengan pedang dari belakang. "Seketika itu terjatuh," kata Paijan (42), seorang saksi mata asal Kemlagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar pukul 22.00 WIB kemarin, mayat Usman dimakamkan di TPU Desa Mojowates Rejo dengan diiringi ratusan pemuda. Saat itu juga, ratusan pemuda itu berupaya mendatangi Desa Pandan Krajan, untuk mencari para pelaku.
Namun keinginan para pemuda itu dicegah salah seorang kerabat Usman. "Kalau kita menyerang desa itu, maka timbul masalah. Bisa-bisa kita yang akan ditangkapi polisi. Kita serahkan saja kasus ini ke polisi," kata Sunardi (36).
Meski demikian, Sunardi tak bisa menjamin tidak ada penyerangan balik ke warga Desa Pandan Krajan. "Jika polisi tak bisa menangkap, maka warga bisa anarkhis," kata Sunardi disambut teriakan para pemuda.
Hingga Kamis (2/10/2008) pukul 02.00 WIB, suasana di Desa Mojowates Rejo masih dipenuhi para pemuda setempat. Sejumlah anggota Polsek Kemlagi juga berada di kawasan itu, untuk mengantisipasi adanya tawuran susulan. (irw/irw)










































